PROBOLINGGO (Surau.ID) – Halal bihalal tidak sekadar menjadi seremonial rutin pasca-Ramadhan. Tradisi ini memiliki makna mendalam sebagai sarana mempererat silaturahim sekaligus “pembersihan total” atas sisa-sisa dosa antarsesama manusia.
Hal tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Moh Zuhri Zaini, dalam acara halal bihalal yang digelar di kediaman H. Mustofa, Desa Pegalangan, Sabtu (25/4/2026).
Dalam kesempatan silaturahim bersama Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ), Kiai Zuhri menegaskan bahwa kesucian yang diraih selama bulan Ramadhan tidak akan sempurna tanpa kerelaan dari sesama manusia.
“Dosa kepada Allah cukup dengan istighfar, tobat, dan penyesalan, insyaallah diampuni. Namun dosa kepada sesama tidak cukup demikian. Jika belum dihalalkan, bisa menggerogoti pahala ibadah lainnya,” tegasnya.
Ia kemudian mengutip hadis tentang al-muflis (orang yang bangkrut). Dalam hadis tersebut, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa orang yang bangkrut bukanlah yang kekurangan harta, melainkan mereka yang datang pada hari kiamat dengan pahala ibadah, namun habis karena harus dibagikan kepada orang-orang yang pernah dizalimi, disakiti, atau digunjing.
Menurutnya, meminta kehalalan menjadi hal yang sangat penting, baik dalam urusan materi maupun non-materi seperti ghibah.
“Ghibah sering kali kita lakukan tanpa sadar. Karena itu, meminta kehalalan kepada sesama menjadi penting, dengan diiringi upaya memperbaiki hubungan ke depan,” imbuhnya.
Dalam konteks kelembagaan, Kiai Zuhri juga memberikan arahan terkait peran P4NJ. Ia menegaskan bahwa meskipun secara struktural beririsan dengan alumni, P4NJ sejatinya merupakan wadah pengabdian yang terbuka bagi siapa saja.
“Siapapun yang ingin membantu pesantren, tanpa melihat latar belakang, kami terbuka. Baik alumni pesantren manapun, selama memiliki semangat pengabdian, kami terima,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kiai Zuhri menyoroti pentingnya penguatan ekonomi umat sebagai bagian dari dakwah pesantren. Ia mengakui bahwa program ekonomi kemasyarakatan masih menghadapi berbagai tantangan.
Menurutnya, terdapat dua faktor utama yang menjadi hambatan, yakni rendahnya kedisiplinan serta sikap terburu-buru dalam membangun usaha dari tahap awal.
“Pengembangan ekonomi bukan sekadar mencari laba, tetapi bagian dari medan dakwah. Di situlah kita mempraktikkan ekonomi berbasis syariah secara nyata di tengah masyarakat,” pungkasnya.