Probolinggo (Surau.ID) – Bagi KH. Zaini Mun’im, dakwah bukan sekadar urusan mimbar dan pengajian. Jalan dakwah, sebagaimana dikenang oleh Kiai Zuhri, justru dimulai dari sawah, ladang, dan kerja-kerja sunyi yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Dari tangan dan teladan itulah, perubahan pelan-pelan tumbuh di lingkungan sekitar Pondok Pesantren Nurul Jadid.
Kesaksian tersebut disampaikan KH. Moh. Zuhri Zaini, putra kelima Kiai Zaini, dalam sebuah halaqah alumni yang digelar baru-baru ini. Dalam forum itu, ia kembali mengisahkan bagaimana Kiai Zaini turun langsung ke lapangan untuk mengubah nasib ekonomi warga.
Salah satu langkah berani yang diambil Kiai Zaini adalah memperkenalkan komoditas tembakau di wilayah Tanjung, sebuah terobosan yang pada masa itu tidak serta-merta diterima masyarakat.
“Dulu masyarakat tidak mau menanam tembakau karena tidak bisa dimakan. Namun, Kiai Zaini membawa pengalaman menanam tembakau dari Madura dan membuktikannya sebagai komoditas ekonomi yang kuat,” ungkap Kiai Zuhri, Sabtu (17/01/2026).
Bagi Kiai Zaini, dakwah ekonomi bukan sekadar soal keuntungan, melainkan cara menumbuhkan kepercayaan diri umat. Perlahan, tembakau mengubah pola tanam masyarakat dan menjadi penopang awal pembangunan pesantren. Bahkan, masjid pertama di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Jadid dibangun sepenuhnya dari hasil penjualan tembakau milik Kiai Zaini.
Kesungguhan itu tidak berhenti pada komoditas tembakau. Kiai Zaini juga dikenal sebagai sosok yang tekun dan tidak berjarak dengan kerja fisik. Ia memimpin langsung kerja bakti membakar bata, menanam kelapa, hingga mengolah lahan tegalan yang gersang menjadi sawah yang produktif. Bagi masyarakat, keteladanan semacam inilah yang membuat dakwahnya mudah diterima—karena dilihat, bukan sekadar didengar.
Dalam kesaksian Kiai Zuhri, pendekatan dakwah Kiai Zaini juga tampak jelas ketika ia berhadapan dengan tradisi masyarakat yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam. Salah satu kisah yang kerap dikenang adalah caranya mengubah tradisi sesajen di sawah tanpa menimbulkan gejolak.
Alih-alih melarang dengan kekerasan atau menggunakan “pentungan”, Kiai Zaini memilih jalan yang lebih bijak. Sesajen berupa bubur merah-putih yang sebelumnya diperuntukkan bagi makhluk halus diubah menjadi tumpeng nasi lengkap dengan lauk-pauk. Ia kemudian mengajak para petani membaca Yasin dan Tahlil bersama, sebelum menyantap hidangan tersebut secara kolektif.
“Jadi yang asalnya sesajen diubah menjadi tumpeng. Yang memakan bukan lagi ‘yang halus’ (jin), tapi ‘yang kasar’ (manusia). Ini adalah cara bijak merubah tradisi tanpa menimbulkan kemarahan,” tutur Kiai Zuhri.
Melalui kisah-kisah semacam itu, Kiai Zuhri menegaskan bahwa dakwah Kiai Zaini berjalan melalui keteladanan, kesabaran, dan keberpihakan pada kehidupan masyarakat kecil. Dakwah tidak dipaksakan, melainkan ditumbuhkan bersama.
Warisan jalan dakwah tersebut kini menjadi pelajaran penting bagi santri dan alumni Nurul Jadid. Di tengah tantangan zaman, kisah Kiai Zaini mengingatkan bahwa dakwah yang relevan adalah dakwah yang membumi—hadir di sawah, di ladang, dan di ruang-ruang sosial tempat umat menggantungkan harapan hidupnya.