PROBOLINGGO (Surau.ID) – Karang Taruna Desa Sumberkerang menggelar nonton bareng film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono di bawah kolong jembatan tol, Sabtu (25/04/2026) malam. Kegiatan ini menjadi ruang edukasi warga untuk memahami dampak Proyek Strategis Nasional (PSN) terhadap masyarakat adat di Papua Selatan.
Puluhan pemuda dan warga hadir dalam kegiatan yang berlangsung sejak pukul 19.00 WIB. Film tersebut mengangkat realitas konflik ruang hidup masyarakat adat yang terdampak ekspansi pembangunan.
Sebelum pemutaran film, panitia membuka sesi Panggung Ekspresi. Warga diberi kesempatan menyampaikan puisi, keluh kesah, hingga penampilan musik akustik.
Suasana haru muncul saat sejumlah pemuda membacakan puisi tentang tanah kelahiran. Diskusi ringan juga mengangkat isu lingkungan yang dihadapi warga Desa Sumberkerang.
Sekretaris Karang Taruna Sumberkerang, Muhammad Kholilur Rohman, mengatakan pemilihan film tersebut bertujuan membangun kesadaran kritis masyarakat.
“Malam ini kita berkumpul bukan sekadar untuk menonton sinematografi, melainkan untuk menyaksikan sebuah kebenaran pahit yang jarang mampir di layar televisi kita,” ungkapnya.
Ia menilai kondisi di Papua Selatan menjadi refleksi bagi masyarakat luas. Menurut dia, terdapat praktik yang mengarah pada kejahatan terorganisir atas nama pembangunan.
“Kami ingin memberikan edukasi bahwa penindasan di sana nyata. Jika kita diam melihat hutan Papua habis, maka jangan kaget jika suatu saat warisan alam di desa kita sendiri juga akan hilang tertelan kepentingan yang sama. Ini adalah pengingat bagi kita semua untuk tetap waspada dan kritis,” jelasnya.
Kegiatan ditutup dengan diskusi santai yang menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga lingkungan dan nilai kemanusiaan.
“Harapan kami sederhana namun mendalam: kami mengajak seluruh warga, terutama pemuda, untuk kembali mencintai dan menjaga warisan alam yang kita miliki. Jangan sampai kita mewariskan air mata kepada anak cucu kita kelak karena kita gagal menjaga tanah dan air hari ini,” pungkas Kholilur.