PAITON (Surau.ID) – Rangkaian agenda Manajemen Pengasuhan Santri (MPS) yang dihelat oleh Biro Kepesantrenan (Biktren) Putri Pondok Pesantren Nurul Jadid terus berlanjut ke sesi pendalaman materi. Kali ini, para peserta mendapatkan pembekalan krusial mengenai keterampilan problem solving yang disampaikan secara daring oleh Ning Raudlatul Aniq, S.Psi., CH., CHt., Kamis (21/05/2026).
Materi ini menjadi bekal strategis bagi para calon pengurus dan wali asuh dalam menavigasi dinamika kehidupan santri yang dinamis di lingkungan pesantren. Dalam pemaparannya, Ning Aniq mengajak para peserta untuk menggeser paradigma mereka dalam memandang sebuah persoalan. Menurut beliau, masalah bukanlah hambatan yang harus dihindari, melainkan sarana pertumbuhan kapasitas diri.
“Masalah hadir bukan untuk mematikan potensi kita, justru melalui berbagai persoalan itulah kapasitas dan potensi diri kita sebenarnya sedang dibentuk,” ujar Ning Aniq memotivasi.
Ia menekankan bahwa setiap individu tidak akan luput dari ujian kehidupan. Maka, kunci utama dalam berorganisasi maupun mengemban amanah sebagai pendamping santri adalah keberanian untuk mencari solusi, bukan sekadar menghindari kenyataan.
“Jangan takut menghadapi masalah. Fokuslah pada bagaimana cara menyelesaikannya. Seseorang yang terampil dalam membedah masalah akan jauh lebih tangguh dalam mengatasi berbagai tantangan di masa depan,” jelasnya.
Lebih mendalam, Ning Aniq juga membedah akar penyebab stres dalam menghadapi persoalan. Seringkali, tekanan mental muncul karena adanya ketimpangan antara harapan (ekspektasi) dengan realitas yang terjadi di lapangan. Ia mengingatkan bahwa kemampuan mengelola emosi dan pikiran sangat menentukan produktivitas seorang pengurus.
Sebagai panduan praktis, Ning Aniq membagikan prinsip dasar dalam menyelesaikan konflik, yakni identifikasi akar masalah, keberanian menghadapi realitas, serta proaktif dalam mencari alternatif solusi.
“Masalah akan terurai jika kita jeli menemukan akarnya, berani menghadapinya, dan konsisten mencari solusi. Sebaliknya, masalah akan terasa semakin menyesakkan jika tujuan kita kabur, kita enggan mengurai persoalan, dan terus-menerus menunda untuk menyelesaikannya,” tegasnya.
Melalui sesi ini, para peserta dibekali dengan kemampuan berpikir kritis dan pengambilan keputusan yang bijaksana. Dengan penguatan kapasitas mental dan teknis ini, Biktren Putri berharap para calon pengurus dapat menjalankan amanah pendampingan santri dengan lebih profesional, humanis, dan penuh tanggung jawab.