JAKARTA (Surau.ID) – Pakar parenting, Ning Evi Ghozaly, membagikan metode pengasuhan anak yang efektif dengan mengacu pada ajaran Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Menurutnya, pola pendidikan anak dapat dibagi ke dalam tiga tahapan usia utama dengan rumus 3×7 tahun. Pendekatan ini bertujuan untuk membentuk karakter anak agar siap menghadapi tantangan zaman dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.
Tahap pertama, yakni usia 0–7 tahun, anak diperlakukan layaknya seorang raja. Pada fase ini, anak adalah peniru ulung yang menyerap segala perilaku orang tua. Oleh karena itu, orang tua diwajibkan menjadi teladan terbaik. Ning Evi menyarankan orang tua untuk memberikan perhatian penuh, membangun ikatan emosional melalui aktivitas bermain, dan tetap tenang saat menghadapi anak tantrum dengan cara hadir secara fisik serta emosional.
Pada tahap kedua, usia 8–14 tahun, perkembangan fisik dan psikologis anak meningkat pesat. Di fase ini, anak mulai memiliki dunia pribadi dan lebih percaya kepada teman atau guru. Meski demikian, orang tua harus tetap menjadi sosok utama yang dipercaya. Anak mulai diberikan tanggung jawab sederhana, seperti membantu pekerjaan rumah tangga, serta dibiasakan melaksanakan kewajiban agama seperti shalat dan puasa.
Memasuki tahap ketiga, usia 15–21 tahun, orang tua perlu memosisikan diri sebagai sahabat bagi anak. Pada fase ini, pola komunikasi yang dibangun bukan lagi berupa perintah, melainkan dialog terbuka. Ning Evi menekankan bahwa ketika anak mulai berargumen, hal tersebut bukan berarti mereka membangkang, melainkan sedang belajar memperjuangkan pendapat dan jati diri mereka.
Selain pendidikan karakter dan agama, Ning Evi menganjurkan pemberian keterampilan hidup (life skills) yang relevan, seperti berenang, berkuda, dan memanah. Keterampilan tersebut melatih fokus, keberanian, kemandirian, serta kemampuan mengambil keputusan yang krusial bagi masa depan anak.
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa kunci utama dalam mendidik anak adalah doa orang tua. “Yang terpenting adalah mendoakan mereka setiap saat karena yang menggerakkan hati manusia hanyalah Allah,” pungkasnya. Sinergi antara pola asuh yang tepat, pembekalan keterampilan, dan doa yang istikamah menjadi pondasi utama dalam mempersiapkan generasi yang tangguh di dunia maupun akhirat.