JAKARTA (Surau.ID) — Momentum Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri (20-21 Juni 2026), bukan sekadar forum rutin organisasi. Pertemuan ini menjadi titik krusial bagi NU dalam merumuskan arah gerak memasuki abad kedua, melampaui sekadar urusan keumatan menuju visi besar sebagai arsitek peradaban.
Melampaui Romantisme Sejarah
Setelah sukses menjaga tradisi, merawat Islam moderat, dan mengawal kebangsaan selama satu abad, NU kini dihadapkan pada tantangan global yang dinamis. Revolusi digital, kecerdasan buatan, hingga krisis lingkungan menuntut NU tidak lagi terjebak dalam romantisme sejarah.
Potensi besar berupa jutaan jamaah dan ribuan pesantren harus dikonversi menjadi capaian nyata di bidang sains, riset, inovasi, dan ekonomi modern. Keberhasilan organisasi ke depan semestinya tidak lagi diukur dari luasnya struktur, melainkan dari kontribusi nyata lahirnya ilmuwan, teknolog, diplomat, dan pemimpin global dari lingkungan Nahdliyin.
Aswaja sebagai Manhaj Peradaban
Nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) berupa tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal, perlu diakselerasi menjadi metodologi berpikir (manhaj peradaban). Nilai-nilai tersebut harus hadir dalam percakapan global mengenai etika digital, ekonomi berkeadilan, hingga tata kelola lingkungan, sehingga tidak hanya berhenti sebagai identitas simbolik.
Agenda Strategis: Dari Jam’iyah Menuju Peradaban
“Dari Jam’iyah Menuju Peradaban” menjadi agenda paling relevan bagi NU saat ini. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) didorong untuk memprioritaskan pembangunan universitas unggulan, pusat riset, transformasi digital, serta penguatan wakaf produktif.
Pengalaman Indonesia dalam memadukan Islam, demokrasi, dan pluralisme merupakan modal berharga bagi NU untuk menawarkan solusi bagi perdamaian dunia. Namun, peran global ini harus ditopang oleh kekuatan intelektual dan kelembagaan yang kokoh di dalam negeri.
Abad pertama NU adalah masa menjaga agama dan tradisi. Abad kedua harus menjadi masa membangun ilmu pengetahuan, teknologi, dan peradaban. Tugas Nahdliyin kini adalah mewariskan peradaban bagi generasi mendatang, sebagaimana para muassis (pendiri) telah mewariskan jam’iyah yang kokoh.