JOMBANG (Surau.ID) – PBNU menyelenggarakan Tasyakuran 1 Abad NU dan doa bersama para kiai sepuh di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, untuk merumuskan arah organisasi di masa depan pada Kamis (16/2/2023).
Pertemuan terbatas ini difokuskan sebagai forum internal jam’iyyah untuk mengirim doa kepada para pendiri organisasi, bersyukur atas pencapaian usia satu abad, serta mengumpulkan aspirasi dari para ulama senior.
Harapan yang disampaikan para kiai sepuh akan diklasifikasikan oleh PBNU ke dalam kategori fondasi, strategi, dan program prioritas sebagai acuan pengelolaan organisasi selama masa khidmah 2022-2027.
Tebuireng sebagai Simbol Akar Organisasi
Pemilihan Pondok Pesantren Tebuireng dinilai sebagai langkah strategis karena merupakan tempat dimakamkannya Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari. Lokasi ini dianggap sebagai sentrum atau pusat simbolis semangat kembali ke akar bagi seluruh warga Nahdliyin.
Rangkaian kegiatan diawali dengan tahlil dan istighotsah di area makam keluarga Tebuireng. Agenda ini dihadiri oleh sekitar 400 peserta, termasuk jajaran mustasyar serta syuriyah PBNU dan PWNU se-Pulau Jawa.
Menyongsong Abad Kedua NU
Ketua PBNU, Alissa Wahid, menekankan bahwa aspirasi para kiai ini akan menjadi kompas penting bagi kepengurusan PBNU ke depan. Forum ini melengkapi rangkaian perayaan satu abad yang sebelumnya telah dirayakan secara meriah oleh seluruh jamaah.
“Harapan-harapan tersebut akan dicatat dan menjadi acuan penting bagi PBNU dalam mengelola organisasi untuk masa khidmah 2022-2027,” ujar Alissa Wahid (16/2/2023).
Semangat kebersamaan yang terpancar dari pertemuan di Tebuireng ini menegaskan komitmen para ulama dalam menjaga marwah serta memperkuat kemandirian Nahdlatul Ulama dalam menapaki babak baru di abad kedua perjuangan organisasi.