JAKARTA (Surau.ID) – Krisis iklim kini telah menjadi ancaman nyata yang dirasakan melalui cuaca ekstrem, banjir, dan kekeringan, yang berdampak serius pada ketahanan pangan global di masa depan.
Guru Besar Teknik Geologi UGM, Prof. Dwikorita Karnawati, mengungkapkan dalam Forum Pemikiran Bulaksumur pada Sabtu (27/06/2026) bahwa kenaikan suhu global 1,55 derajat Celsius telah melampaui estimasi target tahun 2100.
Percepatan perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia sejak Revolusi Industri ini menyebabkan siklus hidrologi menjadi ekstrem, menciptakan fenomena climate boiling di mana banjir dan kekeringan terjadi secara bersamaan di berbagai wilayah.
Risiko Bencana Geohidrometeorologi Global
Perubahan iklim memperbesar risiko bencana geohidrometeorologi, yakni keterkaitan antara faktor geologi, hidrologi, dan meteorologi yang memicu tanah longsor hingga gangguan ketahanan pangan yang masif.
Dunia diperingatkan menghadapi potensi gagal panen serentak pada dekade 2050-an, sehingga ketergantungan pada impor pangan tidak lagi bisa diandalkan sebagai solusi utama dalam menghadapi krisis yang terjadi.
Mitigasi Melalui Teknologi dan Pendidikan
Dwikorita menekankan pentingnya strategi mitigasi yang memadukan teknologi tepat guna dengan kearifan lokal guna memperkuat kesiapsiagaan masyarakat, terutama dalam memberikan perlindungan bagi kelompok rentan di wilayah rawan bencana.
“Akar persoalannya harus diselesaikan sejak sekarang, yaitu bagaimana manusia mengurangi penyebab perubahan iklim sekaligus memperkuat kemampuan adaptasi masyarakat,” ujar Prof. Dwikorita Karnawati, Guru Besar Teknik Geologi UGM.
Selain mitigasi fisik, penguatan kapasitas masyarakat juga harus dimulai dari dunia pendidikan melalui pendekatan problem-based learning agar mahasiswa dapat berkolaborasi dengan masyarakat dalam menyelesaikan tantangan nyata terkait iklim.
Upaya kolektif ini diharapkan dapat menekan laju perubahan iklim sekaligus memastikan ketahanan pangan dan keselamatan masyarakat tetap terjaga di tengah kondisi alam yang kian menantang bagi keberlangsungan hidup seluruh umat manusia di bumi.