Jakarta (Surau.ID) Sepanjang 2025, Presiden Prabowo Subianto aktif melakukan diplomasi internasional melalui lawatan bilateral dan forum multilateral di berbagai belahan dunia. Dalam satu tahun, Prabowo mengunjungi puluhan negara untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global yang kian kompleks.
Politik luar negeri menjadi salah satu pilar utama pemerintahan Presiden Prabowo. Tiga minggu setelah dilantik, ia langsung memulai rangkaian kunjungan luar negeri. Selama dua pekan, Prabowo menyambangi enam negara, mulai dari China hingga Uni Emirat Arab. Pada akhir Desember 2024, ia kembali melakukan kunjungan ke Mesir.
Memasuki 2025, intensitas diplomasi semakin meningkat. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, Presiden Prabowo mencatat setidaknya 34 kunjungan ke 25 negara selama total 63 hari. Negara tujuan tersebar di Asia, Eropa, Amerika, Afrika, dan Australia. Malaysia menjadi negara yang paling sering dikunjungi, disusul Uni Emirat Arab, Mesir, Qatar, Singapura, dan Rusia.
Sebagian besar lawatan tersebut diisi pertemuan bilateral dengan kepala negara. Agenda utama mencakup penguatan hubungan strategis dan penandatanganan kerja sama lintas sektor, termasuk ekonomi dan pertahanan.
Dalam berbagai forum internasional, Presiden Prabowo konsisten menyuarakan keadilan dan perdamaian dunia. Saat berpidato di Sidang Umum Majelis PBB, 23 September 2025, ia menyerukan pengakuan kemerdekaan Palestina sebagai langkah mendesak mengakhiri konflik berkepanjangan.
”Kita harus menghentikan bencana kemanusiaan di Gaza dan mengakhiri perang harus menjadi prioritas utama kita. Kita harus mengatasi kebencian dan ketakutan. Kita harus mengatasi kecurigaan. Kita harus mencapai perdamaian yang dibutuhkan umat manusia. Kami siap mengambil bagian dalam perjalanan menuju perdamaian ini,” ujar Prabowo.
Ia menegaskan solusi dua negara sebagai jalan damai yang adil, sejalan dengan Deklarasi New York dan sikap sejumlah negara yang telah mengakui Palestina.
Salah satu capaian penting diplomasi Presiden Prabowo adalah tercapainya kesepakatan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Kesepakatan itu diumumkan usai pertemuan dengan Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen di Brussels, 13 Juli 2025.
”Saya ingin menyampaikan bahwa hari ini kita mencapai suatu terobosan. Setelah 10 tahun negosiasi, kita menyepakati comprehensive economic partnership agreement (CEPA), yang pada dasarnya adalah perjanjian dagang bebas,” kata Prabowo.
Perjanjian tersebut menghapus lebih dari 98 persen pos tarif dan mencakup 99 persen nilai impor kedua pihak.
Presiden Prabowo juga mengambil langkah strategis dengan membawa Indonesia bergabung dalam BRICS. Ia menghadiri KTT BRICS ke-17 di Rio de Janeiro dan mengusulkan gagasan South-South Economic Compact untuk memperkuat solidaritas ekonomi negara berkembang.
Selain itu, Prabowo menegaskan komitmen Indonesia terhadap multilateralisme, hukum internasional, serta penolakan terhadap standar ganda dan agresi militer.
Peran aktif Indonesia terlihat saat Presiden Prabowo menghadiri penandatanganan kesepakatan penghentian perang di Jalur Gaza, Oktober 2025. Dalam forum tersebut, ia mendapat apresiasi khusus dari Presiden Amerika Serikat.
”Bersama kita adalah Presiden Prabowo, sosok luar biasa dari Indonesia,” ujar Donald Trump.
Indonesia juga menyatakan kesiapan mengirim 20.000 pasukan perdamaian jika diminta. ”Kami katakan kami siap kalau diminta mengirim penjaga perdamaian. Pasukan peacekeeping Indonesia siap. Itu sudah saya tegaskan,” kata Prabowo.
Di kawasan, Indonesia masih dipandang sebagai natural leader ASEAN. Namun, sejumlah pengamat menilai diplomasi regional perlu diperkuat kembali. Guru Besar FISIP UGM Dafri Agussalim mengingatkan pentingnya peran aktif Indonesia di internal ASEAN.
”Presiden Prabowo Subianto memang aktif ke luar negeri terus, tetapi tidak di internal ASEAN. Ini tidak baik. Indonesia seharusnya lebih berperan aktif,” ujarnya.
Catatan ini menjadi tantangan tersendiri bagi diplomasi Indonesia di tengah meningkatnya konflik antarnegara di kawasan.
Sumber: Kompas.id