PROBOLINGGO (Surau.ID) – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kraksaan menggelar Apel Kader Akbar di The Bentar Beach, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, Ahad (28/6/2026).
Agenda besar yang dihadiri oleh ribuan kader dari berbagai Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) ini bertujuan untuk memperkuat ideologi, militansi keilmuan, serta komitmen pengabdian organisasi.
Katib Syuriah PCNU Kraksaan, KH. Hassan Ahsan Maliki, S.Sy, mengingatkan seluruh peserta agar tidak melihat agenda ini sebagai formalitas belaka.
Pria yang akrab disapa Nun Alex tersebut menegaskan bahwa momen ini merupakan ruang krusial untuk mengonsolidasikan batin dan struktur organisasi demi menghadapi tantangan zaman yang kian dinamis.
“Apel kader ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Apel ini merupakan momentum untuk memperkuat komitmen, memperbarui semangat perjuangan, dan meneguhkan tekad kita sebagai kader Nahdlatul Ulama,” tegasnya.
Menurut Nun Alex, kaderisasi merupakan motor utama yang menjaga eksistensi NU. Menjadi bagian dari kader NU berarti memikul tanggung jawab besar sebagai penerus perjuangan para ulama terdahulu, baik dalam menjaga nilai agama maupun melayani masyarakat.
Ia juga menyoroti kompleksitas dakwah di era modern. Menurutnya, derasnya arus digitalisasi dan pergeseran sosial menuntut para kader untuk terus meningkatkan kapasitas diri agar tetap relevan menjadi benteng Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
“Menjadi kader NU berarti siap mengabdi, siap berjuang, dan siap menjaga amanah organisasi serta umat,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, KH. Abdul Wasik Hannan menjelaskan bahwa kekuatan NU tidak hanya bersandar pada jajaran pengurus, melainkan pada soliditas kader di akar rumput.
Apel akbar ini diproyeksikan sebagai media untuk menyatukan visi perjuangan dan merawat ghirah berkhidmat.
“Tujuan apel kader ini adalah mengonsolidasikan kekuatan organisasi, memperkuat komitmen loyalitas, dan meneguhkan semangat pengabdian atau ghirah berkhidmat para kader,” ujarnya.
Suasana apel menjadi lebih menyentuh saat Bupati Probolinggo, Gus dr. Mohammad Haris, memberikan sambutan. Berbeda dengan pejabat pada umumnya, Gus Haris memilih menyampaikan pesan melalui bait-bait puisi yang ditulisnya sesaat sebelum acara dimulai.
Dalam puisinya, Gus Haris merefleksikan NU sebagai rumah spiritual tempat jutaan hati pulang untuk belajar adab, merawat persaudaraan, dan menanamkan cinta tanah air.
“Bukan sekadar nama yang terukir sejarah, tetapi doa-doa yang menjelma langkah. Bukan sekadar organisasi, melainkan rumah, tempat jutaan hati pulang. Untuk mencintai Allah, mencintai Rasul-Nya, dan mencintai sesama manusia,” lantun Gus Haris dengan penuh penghayatan.
Melalui pendekatan kultural tersebut, Gus Haris berpesan agar kader NU selalu mengedepankan kerendahan hati dan menjadikan perbedaan sebagai jembatan silaturahmi, bukan pemecah belah bangsa.