BULELENG (Surau.ID) – Kegiatan bedah buku bertajuk “Refleksi Pemuda Pengastulan (Kauman): Menelusuri Nilai Sejarah dan Budaya Lokal” digelar pada Minggu (12/4/2026), pukul 08.00 WITA di Yayasan Pendidikan Al-Huda, Banjar Dinas Kauman, Desa Pengastulan, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Acara ini terbuka untuk umum dan dihadiri berbagai kalangan, khususnya generasi muda.
Buku yang dibedah dalam kegiatan ini adalah “Bali Slam: Entitas yang Terlupakan” karya Ilham Efendi. Karya tersebut mengangkat jejak sejarah dan keberadaan komunitas Islam di Bali yang selama ini dinilai kurang mendapat perhatian dalam narasi besar sejarah daerah.
Penulis buku, Ilham Efendi, menjelaskan bahwa buku ini lahir dari kegelisahan akademik sekaligus sosial.
“Bali tidak hanya memiliki satu wajah budaya. Ada entitas lain yang turut membentuk sejarahnya, namun belum banyak diangkat ke ruang publik,” ujarnya.
Ia menegaskan, penulisan buku ini bertujuan membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang keberagaman sejarah di Bali.

“Ini bukan sekadar buku sejarah, tapi upaya mengajak pembaca untuk melihat Bali dari perspektif yang lebih utuh,” tambahnya.
Kadek Kim Alan, aktivis dakwah dan lingkungan nasional yang turut menjadi pembicara, menyoroti pentingnya generasi muda dalam merespons isu sejarah secara kontekstual.
“Kesadaran sejarah harus diterjemahkan dalam tindakan nyata, termasuk menjaga harmoni sosial dan lingkungan sebagai bagian dari identitas lokal,” katanya.
Sementara itu, Amoeng A. Rachman, Koordinator Forum Pemerhati Sejarah Islam (FPSI) Buleleng, menekankan pentingnya pelestarian literasi sejarah.
“Diskusi seperti ini penting untuk memperkaya pemahaman masyarakat. Sejarah yang tidak ditulis dan dibicarakan berpotensi hilang,” ungkapnya.
Meski diselenggarakan di Desa Pengastulan, kegiatan ini tidak secara khusus membahas sejarah lokal desa tersebut, melainkan lebih luas mengupas dinamika sejarah Islam di Bali sebagaimana tertuang dalam buku yang dibedah.
Melalui kegiatan ini, panitia berharap masyarakat, khususnya generasi muda, semakin terdorong untuk membaca, berdiskusi, serta menggali kembali berbagai narasi sejarah yang selama ini belum banyak terungkap.