JAKARTA (Surau.ID) — Lima peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan hasil riset yang berpotensi diterapkan pada berbagai sektor, mulai dari kesehatan, kehutanan, teknologi nuklir, keuangan mikro, hingga pemulihan lingkungan.
Paparan tersebut disampaikan dalam Sidang Terbuka Pengukuhan Profesor Riset di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (8/10). Kelima peneliti membawa fokus penelitian yang berbeda, tetapi sama-sama menawarkan inovasi yang diarahkan untuk menjawab persoalan praktis dan kebutuhan pembangunan.
Salah satu riset yang mendapat perhatian datang dari Iwan Setyadi melalui pengembangan material implan tulang berbasis magnesium. Sementara Efrida Basri menawarkan teknologi pengeringan kayu dengan energi surya dan biomassa. Di bidang obat bahan alam, Hendig Winarno meneliti pemanfaatan radiasi pengion. Agus Eko Nugroho mengkaji inklusivitas pembiayaan mikro, sedangkan Dede Heri Yuli Yanto mengembangkan enzim lakase untuk bioremediasi.
Dari Implan Tulang hingga Teknologi Kayu
Iwan Setyadi, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Komposit dan Biomaterial, mengembangkan komposit magnesium-karbonat apatit (Mg–CAp) sebagai material implan tulang traumatik yang dapat terdegradasi secara terkendali.
Konsep tersebut ditujukan untuk mengatasi salah satu persoalan dalam penggunaan implan, yakni kebutuhan untuk mengeluarkan kembali material setelah tulang mengalami penyembuhan. Implan berbasis magnesium dirancang untuk tetap menopang tulang pada fase awal pemulihan, kemudian mengalami degradasi secara bertahap.
Pengembangan material tersebut menggunakan karbonat apatit yang berasal dari sumber daya lokal. Riset Iwan mencakup formulasi material, fabrikasi, rekayasa permukaan, pengujian biologis, hingga desain implan.
“Penelitian komposit Mg–CAp biodegradable berangkat dari tantangan bagaimana menghasilkan implan tulang traumatik yang cukup kuat untuk menjalankan fungsinya, tetapi dapat terdegradasi secara terkendali setelah tulang sembuh,” terangnya.
Dari sektor kehutanan, Efrida Basri mengembangkan teknologi pengeringan kayu yang menggabungkan energi surya dan biomassa. Peneliti Ahli Utama Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material itu menilai pemanfaatan energi terbarukan dapat menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus kualitas kayu cepat tumbuh.
Teknologi tersebut memanfaatkan sumber biomassa seperti serpihan kayu, serbuk gergaji, dan ranting. Selain mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, pemanfaatannya membuka peluang pengolahan limbah menjadi sumber energi dalam skema ekonomi sirkular.
Penerapan teknologi tersebut tetap membutuhkan dukungan industri, akademisi, kebijakan, serta standardisasi dan sertifikasi agar dapat digunakan secara lebih luas.
“Pengembangan teknologi pengeringan berbasis energi surya-biomassa mendorong transisi industri kayu menuju energi terbarukan, mengurangi ketergantungan pada energi fosil, menekan biaya, serta meningkatkan kualitas kayu cepat tumbuh melalui modifikasi yang ramah lingkungan,” jelasnya.
Radiasi, Keuangan Mikro, dan Bioremediasi
Inovasi lainnya berasal dari Hendig Winarno yang meneliti penggunaan teknologi radiasi pengion untuk meningkatkan mutu dan keamanan obat bahan alam (OBA).
Teknologi seperti sinar gamma, berkas elektron, dan sinar-X dapat digunakan sebagai metode dekontaminasi bahan obat herbal yang sensitif terhadap panas atau bahan kimia. Proses iradiasi dapat menekan cemaran mikroorganisme tanpa meningkatkan suhu secara signifikan dan tanpa meninggalkan residu kimia.
Pada penerapan dengan dosis yang tepat, teknologi tersebut juga berpeluang mempertahankan senyawa bioaktif seperti kurkuminoid, flavonoid, polifenol, dan minyak atsiri. Namun, penerapannya tetap membutuhkan optimasi dosis, validasi proses, serta pemenuhan ketentuan regulasi.
“Teknologi radiasi pengion memiliki kontribusi signifikan dalam meningkatkan mutu, keamanan, dan daya saing obat bahan alam (OBA) Indonesia,” sebutnya.
Sementara itu, Agus Eko Nugroho membawa persoalan inklusivitas pembiayaan ke dalam kajiannya mengenai pasar keuangan mikro. Peneliti Ahli Utama Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat tersebut menggunakan penelitian empiris selama 20 tahun untuk melihat karakteristik lembaga keuangan mikro, hubungan kelembagaan, serta persaingan dalam penyaluran pembiayaan.
Menurut kajiannya, kebijakan kredit bersubsidi yang disalurkan melalui perbankan perlu memperhatikan kondisi dan segmentasi pasar keuangan mikro. Kebijakan yang tidak mempertimbangkan karakteristik pelaku dapat berpengaruh terhadap keberlangsungan lembaga keuangan mikro.
“Tiga proposisi utama telah saya uji secara empiris selama 20 tahun terakhir, khususnya dalam memahami dinamika keuangan mikro di Indonesia. Pengabaian prinsip ini, pada ujungnya, akan menjadi kendala utama bagi pemerintah dalam membangun industri keuangan mikro yang kompeten, berdaya saing dan inklusif,” terangnya.
Karena itu, perumusan program kredit perlu memperhitungkan karakteristik pelaku usaha dan segmentasi pasar. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperluas akses pembiayaan bagi usaha mikro dan kecil sekaligus menjaga keberlanjutan industri keuangan mikro.
Adapun Dede Heri Yuli Yanto membawa pemanfaatan biodiversitas Indonesia ke ranah pemulihan lingkungan. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Mikrobiologi Terapan tersebut mengembangkan enzim lakase sebagai salah satu solusi bioremediasi, khususnya untuk menangani pencemaran dari industri tekstil dan petrokimia.
Peraih gelar doktor bidang Applied Bioresource Sciences dari Ehime University, Jepang, tersebut juga menjelaskan bahwa riset tersebut menggunakan sistem lakase-mediator dan teknik imobilisasi. Peneliti juga mengkaji mekanisme degradasi serta detoksifikasi dengan pendekatan metabolomik dan molekuler.
Penggunaan enzim lakase tidak hanya diarahkan untuk penanganan limbah. Teknologi tersebut berpotensi diterapkan pada berbagai bidang, seperti pangan, tekstil, pulp dan kertas, produk perawatan diri, biosensor, hingga kesehatan. Pengembangan lebih lanjut membutuhkan kolaborasi dengan industri pengguna.
“Penelitian ini diarahkan untuk pengembangan aplikasi bioremediasi limbah industri tekstil dan petrokimia yang efektif, aman, adaptif, dan berkelanjutan. Untuk itu, diperlukan proses pemanfaatan lakase secara lebih masif untuk berbagai aplikasi, dalam mendukung pencapaian SDGs,” pungkasnya.