Di tengah perhatian besar pada mata pelajaran eksakta dan bahasa asing, kecintaan pada sejarah masih tumbuh dengan kuat. Di SMA Al-Abidin Boarding School (ABBS) Solo, hal itu tampak pada diri Bianca Asyifa Pritadewi.
Siswi ABBS Solo tersebut meraih nilai 90,89 untuk mata pelajaran Sejarah dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA). Capaian itu sejalan dengan minatnya yang besar terhadap sejarah.
Bagi Bianca, sejarah bukan sekadar pelajaran di kelas. Ia melihatnya sebagai kisah panjang yang hidup dan terus mengundang rasa ingin tahu.
Setiap kali berbincang tentang sejarah Nusantara, terutama kerajaan-kerajaan masa lalu, antusiasmenya terlihat jelas. Ketertarikan serupa juga ia tunjukkan pada sejarah dunia.
Minat tersebut telah tumbuh sejak ia masih kecil. Cerita-cerita sejarah yang ia dengar di lingkungan keluarga menjadi awal kecintaannya pada masa lalu bangsanya.
“Saya suka banget sama sejarah. Soalnya dari kecil saya suka diceritain tentang sejarah. Misalkan saya waktu SD itu sudah tahu kalau dulu Majapahit atau Kerajaan Demak itu nama lainnya adalah Gelagah Wangi. Pakde saya yang suka menceritakan,” kata dia, dilansir Espos, Rabu (14/1/2026).
Semakin banyak mempelajari sejarah, Bianca justru semakin merasa bangga. Ia menyebut belajar sejarah seperti melakukan perjalanan ke masa lalu.
Baginya, sejarah tidak hanya menyimpan cerita kejayaan. Di dalamnya juga terdapat pelajaran tentang kehidupan, kekuasaan, dan kebudayaan.
Menariknya, sejarah juga menjadi ruang rehat bagi Bianca. Ketika lelah atau jenuh dengan pelajaran lain, membaca kisah sejarah justru membuatnya kembali bersemangat.
“Misalnya ketika capek setelah belajar mapel lain, atau karena kegiatan lain, saya bisa baca-baca sejarah. Jadi seperti pelarian dari stres. Seru banget pokoknya,” kata dia.
Sumber belajarnya pun beragam. Bianca mengaku sering membaca buku, menjelajah internet, hingga menonton kanal YouTube yang membahas sejarah.
Selain sejarah Nusantara, ia juga mengagumi sejarah kerajaan-kerajaan di Tiongkok. Ketertarikan itu perlahan membentuk arah rencana pendidikannya.
Setelah lulus SMA, Bianca berencana melanjutkan studi ke Fakultas Ilmu Budaya. Ia berharap dapat diterima di Universitas Sebelas Maret (UNS).
Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok menjadi pilihannya. Program tersebut dinilai memiliki peluang pengembangan akademik yang luas.
“Jadi kalau misalkan sudah starting point-nya double degree waktu S1, nanti harapannya waktu mau melanjutkan S2 atau S3-nya itu jadi lebih bisa,” kata dia.
Bagi Bianca, sejarah bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah cara memahami jati diri, membuka cakrawala budaya, dan menyiapkan langkah menuju masa depan.