NUSA TENGGARA TIMUR (Surau.ID) – Tim Medis Darurat (EMT) Muhammadiyah memberikan pelayanan kesehatan kepada 2.222 penyintas gempa di Nusa Tenggara Timur selama periode 17–28 Agustus 2026.
Masa tanggap darurat pascagempa bumi di Kepulauan Flores NTT berakhir seiring tingginya kebutuhan penanganan medis dan psikososial di kantong-kantong pengungsian.
Layanan kesehatan berstandar WHO ini menjangkau berbagai kelompok usia, mulai dari bayi hingga lansia, demi memastikan keselamatan warga terdampak.
Penanganan Medis Berstandar WHO di Lokasi Bencana
Dari total pasien yang ditangani, sebanyak 1.328 merupakan perempuan dan 894 laki-laki, termasuk di antaranya 13 ibu hamil yang membutuhkan perawatan intensif.
Infeksi saluran pernapasan menjadi kasus tertinggi dengan 437 pasien, disusul nyeri otot, hipertensi, gangguan pencernaan, serta keluhan sakit kepala akibat kondisi lingkungan pengungsian.
Edukasi Pola Hidup Sehat di Tengah Pengungsian
Seiring menurunnya kasus trauma fisik, ancaman penyakit infeksi lingkungan kini menjadi fokus utama penanganan medis darurat di lapangan.
“Dengan demikian, penyintas dapat mencegah penyebaran penyakit sekaligus menjaga kesehatan dasar di lingkungan sekitar tenda pengungsian,” ujar dr. Corona Rintawan, Ketua EMT Muhammadiyah.
Pendampingan pola hidup bersih dan ketersediaan sanitasi air layak terus digalakkan demi mengawal kesehatan masyarakat terdampak hingga pulih sepenuhnya.