Surabaya (Surau.ID) – Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya malam itu bukan hanya menjadi arena pertandingan sepak bola, tetapi juga ruang perjumpaan batin. Pendakwah muda Muhammad Iqdam Kholid, yang dikenal luas sebagai Gus Iqdam, mengalami momen emosional tak terlupakan saat menyaksikan langsung laga Super League 2025/2026 antara Persebaya Surabaya melawan Dewa United.
Bagi pengasuh Majelis Sabilu Taubah tersebut, kehadirannya di GBT bukan sekadar menonton pertandingan. Ia mengaku larut dalam suasana, bahkan tak kuasa menahan air mata ketika puluhan ribu suporter Persebaya menyanyikan Song For Pride, lagu kebanggaan yang selalu menggema menjelang pertandingan.
Pengalaman itu dibagikan Gus Iqdam melalui tayangan di kanal YouTube resminya. Ia menyebut kunjungan pertamanya ke stadion kebanggaan Arek-Arek Suroboyo sebagai pengalaman hidup yang membekas.
“Ini benar-benar pengalaman hidup. Baru pertama kali saya ke GBT. Masyaallah… saat semua menyanyikan Song For Pride, rasanya luar biasa,” ungkapnya dalam tausiahnya.

Sebelumnya, Gus Iqdam mengaku sempat meragukan cerita jemaahnya asal Surabaya yang menggambarkan suasana GBT layaknya momen spiritual. Ia bahkan sempat tersenyum mendengar perbandingan antara Song For Pride dengan suasana Mahalul Qiyam, momen khidmat saat selawat dikumandangkan.
“Dulu saya diberi tahu, katanya suasananya bisa bikin nangis, seperti Mahalul Qiyam. Saya pikir, masa iya lagu di stadion bisa sampai begitu,” tuturnya.
Keraguan itu runtuh seketika ketika ia merasakan langsung getaran tribun. Menurut Gus Iqdam, kekompakan, keikhlasan, dan cinta para Bonek kepada klub kebanggaannya menghadirkan energi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
“Begitu mendengar langsung, rasanya masuk ke hati. Saya baru paham kenapa banyak orang terharu,” katanya.
Pengalaman tersebut juga menjadi penegas bahwa sepak bola tidak selalu identik dengan hiruk-pikuk dan stigma negatif suporter. Di mata Gus Iqdam, GBT justru memperlihatkan wajah lain: kebersamaan, cinta kota, dan ekspresi rasa yang tulus.
Dalam pertandingan itu sendiri, Persebaya Surabaya harus berbagi poin usai ditahan imbang Dewa United dengan skor 1-1. Meski gagal menang di kandang, tambahan satu poin mengantarkan Green Force naik ke peringkat lima klasemen sementara dengan koleksi 32 poin.
Namun bagi Gus Iqdam, hasil akhir pertandingan bukanlah hal utama. Kunjungannya ke GBT menjadi bentuk penghormatan pada budaya lokal Surabaya—di mana sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan ruang persatuan dan ungkapan rasa cinta yang hidup di tengah masyarakat.