JEMBER (Surau.ID) – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur zonasi di Jember hingga hari kedua (24/6) menunjukkan disparitas ekstrem, di mana sekolah pinggiran minim pendaftar sementara sekolah favorit mengalami kelebihan kapasitas.
Kesenjangan ini dipicu oleh dominasi stigma sekolah favorit serta pengaruh keberadaan lembaga pendidikan swasta dan pondok pesantren di wilayah perdesaan. Akibatnya, distribusi calon peserta didik baru belum merata di berbagai kecamatan.
Data menunjukkan SMPN 4 Sumberjambe hanya mencatatkan 10 pendaftar, sementara sekolah seperti SMPN 1 Ambulu justru diserbu pendaftar yang jumlahnya dua kali lipat melebihi kuota tersedia. Situasi ini menuntut perhatian khusus dalam pemerataan akses pendidikan.
Ketimpangan Akses Pendidikan
Minat pendaftar masih terpusat pada sekolah-sekolah yang dianggap unggulan, meski pemerintah terus mengimbau kesetaraan kualitas pendidikan. Di sisi lain, sekolah di wilayah pinggiran seperti SMPN 4 Kalisat dan SMPN 2 Silo masih berjuang keras untuk memenuhi kuota rombongan belajar yang ditetapkan.
Kondisi geografis dan preferensi orang tua untuk menyekolahkan anak ke lingkungan berbasis agama atau sekolah swasta turut menjadi faktor utama rendahnya serapan pendaftar di SMP negeri pinggiran. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah daerah dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif.
Optimisme Pemenuhan Kuota
Meski terjadi ketimpangan, pihak sekolah pinggiran tetap optimistis kuota akan terpenuhi melalui jalur limpahan dari pendaftar yang tidak lolos di sekolah pilihan pertama. “Masih ada waktu pada hari terakhir, termasuk kemungkinan pendaftar yang tidak diterima di SMPN 1 Silo,” ujar Kepala SMPN 2 Silo, Supriyanto.
Sekolah favorit di perkotaan saat ini telah menerapkan sistem pelayanan pendaftaran yang lebih efisien dengan dukungan teknologi untuk mengantisipasi lonjakan jumlah calon siswa. Disparitas ini menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap persepsi masyarakat dan pemerataan fasilitas pendidikan agar tidak ada lagi sekolah yang kesulitan mencari siswa di masa depan.
Harapannya, seluruh lulusan SD di Jember dapat tertampung di jenjang SMP dengan kualitas yang terjamin di mana pun mereka bersekolah, sehingga tidak ada lagi kesenjangan akses yang menghambat hak setiap anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan merata bagi kemajuan sumber daya manusia di Kabupaten Jember secara jangka panjang.