Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
05 Mei 2026 | 21:25 WIB
Daerah

Ketua PKC PMII Jatim: Tekankan Profesionalitas Kader PMII Berbasis Keilmuan

E952261f d575 4781 8ff7 5955b62fef00 optimized

 

NGANJUK (Surau.ID) – Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Nganjuk resmi membuka agenda Pelatihan Kader Lanjutan (PKL) yang bertempat di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk. Kegiatan yang berlangsung selama lima hari, yakni 5-9 Mei 2026 ini, bertujuan untuk mencetak kader mujahid yang progresif dan kompeten di bidangnya.

Dalam salah satu sesi materi yang krusial, menghadirkan Mohammad Ivan Akiedozawa, Ketua PKC PMII Jatim yang membedah materi besar mengenai “Strategi Gerakan dan Strategi Kepemimpinan PMII”.

Di hadapan puluhan peserta, Ivan menekankan pentingnya integrasi antara idealisme organisasi dengan latar belakang akademik para kader.

Fokus pada Rumpun Keilmuan

Tum Edo sapaan akrabnya, menegaskan bahwa di era disrupsi saat ini, kader PMII tidak boleh hanya sekadar “bisa berorganisasi”, tetapi harus menjadi profesional yang mumpuni sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuni di bangku perkuliahan.

Menurutnya, kader PMII harus profesional di bidangnya masing-masing. Jangan sampai yang dari jurusan Tarbiyah justru memaksakan diri jadi dokter, atau yang latar belakang kedokteran malah melompat jadi pengacara.

“Kita harus tertib secara rumpun keilmuan agar kontribusi kita di masyarakat menjadi presisi,” tegasnya.

Bagi dia penguatan basis keilmuan ini adalah bentuk tanggung jawab moral mahasiswa sebagai kaum intelektual. Organisasi, lanjut Ivan, memiliki kewajiban untuk memfasilitasi minat dan bakat kader agar linier dengan studi mereka.

Model Gerakan PMII

Lebih lanjut, Ivan memaparkan tujuh model gerakan yang bisa diambil oleh kader PMII untuk mewarnai ruang publik, di antaranya:

Pertama intelektual organik: Kader yang tekun mendalami perkuliahan dan fokus pada penguasaan mata kuliah secara mendalam. Kedua, agamawan pembebas: kader yang mampu merajut dan membumikan Amaliah Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) sebagai solusi problem sosial.

Ketiga pers independen: Menjadi jurnalis atau penggerak media yang konsisten membela nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah. Keempat, parlemen advokasi: fokus pada pengawalan kebijakan publik dan pembelaan terhadap kaum mustad’afin (kaum tertindas).

Kelima pekerja budaya: kader yang mengekspresikan nilai pergerakan melalui pendekatan seni dan budaya lokal. Keenam, Profesional Kader: Mengembangkan diri berdasarkan bakat dan minat yang sesuai dengan rumpun keilmuan masing-masing.

Era Kolaborasi, Bukan Konfrontasi

Menutup penyampaiannya, Tum Edo mengingatkan bahwa paradigma gerakan PMII harus mulai bergeser. Jika dulu gerakan identik dengan perlawanan fisik atau konfrontasi langsung, maka hari ini kekuatan utama terletak pada sinergi.

“Era sekarang bukan lagi zamannya melawan secara membabi buta. Sekarang adalah era kolaborasi. Kita harus mampu bergandengan tangan dengan berbagai pihak, menyatukan keahlian yang berbeda untuk mencapai tujuan bersama,” pungkasnya.

Kegiatan PKL ini diharapkan mampu melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan dari rahim PMII Nganjuk yang tidak hanya cakap secara retorika, tetapi juga kokoh secara teknokratis dan akademis.

Penulis: Badrul Nurul Hisyam
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id