Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, KH. Moh. Zuhri Zaini, menekankan bahwa ekonomi yang kuat adalah sarana penting untuk keberlanjutan perjuangan dakwah alumni.
__________________________________
Probolinggo (Surau.ID) – “Saya harapkan ini betul-betul serius, tidak hanya seremonial. Jangan sampai hanya selesai di halaqah kemudian tinggal catatan saja dalam sejarah. Harus ada implementasi dan pertemuan lanjutan untuk membahas masalah teknis di lapangan,” tegas KH. Moh. Zuhri Zaini, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton.
Pernyataan itu disampaikan Kiai Zuhri dalam Halaqah Alumni yang digelar di Aula 1 Pesantren pada Sabtu (17/01/26). Forum ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Haul Masyayikh dan Hari Lahir (Harlah) Pesantren, sekaligus momen refleksi bagi alumni untuk menimbang arah langkah ke depan.
Dalam arahan yang memadukan sejarah pesantren dan praktik nyata, Kiai Zuhri menyinggung akar budaya pesantren yang telah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Beliau menjelaskan, istilah “santri” dalam bahasa Madura kerap disebut kancah, yang berarti sahabat. Sebutan ini mencerminkan kedekatan yang akrab antara guru dan murid, tanpa jarak, sebagaimana Nabi memperlakukan para sahabatnya.
Kiai Zuhri juga mengingatkan alumni untuk menjaga identitas kesantriannya. “Kita sebagai alumni tetaplah santri, bukan ‘alumni santri’. Kalau alumni pesantren boleh, tapi jangan sampai menjadi mantan santri. Lebih baik menjadi mantan preman seperti Sunan Kalijaga yang berproses menjadi wali, daripada menjadi mantan santri,” seloroh beliau yang disambut khidmat oleh peserta.
Kiai Zuhri menegaskan bahwa misi pesantren adalah dakwah dalam arti luas—mencakup aspek ritual-spiritual, sosial, ekonomi, hingga politik. Dalam hal ekonomi, penguasaan finansial menjadi fondasi utama agar perjuangan dakwah bisa berjalan dan berkelanjutan.
Beliau mencontohkan Nabi Muhammad SAW sebagai pebisnis yang sukses dan menggunakan hartanya untuk dakwah. Hal serupa juga dilakukan oleh pendiri pesantren, KH. Zaini Mun’im.
“Kiai Zaini Mun’im adalah seorang pebisnis tembakau. Beliau membudidayakan tembakau hingga mampu membangun masjid pertama di pesantren ini dari hasil penjualannya. Beliau mengajarkan bahwa ekonomi adalah sarana ibadah dan perjuangan,” ungkap Kiai Zuhri.
Selain ekonomi, Kiai Zuhri menyoroti transformasi budaya dan pendidikan yang dilakukan KH. Zaini Mun’im. Salah satunya adalah mengubah tradisi sesajen di sawah menjadi tumpengan yang disertai doa Yasin dan Tahlil.
“Cara mengubah tradisi yang tidak sesuai syariat dilakukan dengan bijak, tidak dengan marah-marah apalagi memakai pentungan. Ini perlu kita tiru,” lanjutnya.
Dalam pendidikan, Pesantren Nurul Jadid telah menerapkan kurikulum yang lengkap sejak dini, menggabungkan ilmu agama (kitab kuning) dan ilmu umum seperti matematika dan sosiologi, jauh sebelum kurikulum nasional diterapkan secara luas.
Menutup arahannya, Kiai Zuhri membahas unit usaha pesantren, seperti BMT dan NJ Mart, dan mengajak alumni untuk terus belajar dari lembaga lain yang sukses, seperti Pesantren Sidogiri dengan swalayan Basmalah-nya. Ia menekankan pentingnya profesionalisme dalam setiap lini kegiatan.
“Ketika bersosial, kita harus seperti famili tanpa kalkulasi. Namun, jika berbisnis, kita harus bersikap profesional seperti orang asing, sekalipun terhadap keluarga sendiri,” jelas Kiai Zuhri.
Halaqah ini diharapkan menjadi titik awal bagi alumni untuk terus berkiprah di berbagai sektor, sambil tetap membawa nilai-nilai kesantrian dalam setiap tindakan sehari-hari.