Tangerang Selatan (Surau.ID) — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penguatan pengelolaan limbah Expanded Polystyrene (EPS) atau Styrofoam melalui pendekatan ekonomi sirkular. Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan pemerintah, industri, peneliti, pengumpul, hingga pengguna material hasil daur ulang.
BRIN bersama TM R&C Co., Ltd. dari Republik Korea membahas strategi tersebut dalam Seminar Internasional bertajuk “Policy, Research and Technological Innovation for Sustainable Styrofoam Waste Management and Recycling in Indonesia” di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan, Rabu (19/8).
Mengutip laman utama BRIN, Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PRSIMB) BRIN, Nugroho Adi Sasongko, mengatakan pengelolaan limbah Styrofoam membutuhkan sistem yang menghubungkan kebijakan, riset, teknologi, dan kebutuhan industri.
Menurut Nugroho, sistem terintegrasi dapat mengubah EPS yang semula menjadi persoalan lingkungan menjadi sumber daya sekunder yang memiliki nilai ekonomi. Pendekatan tersebut juga perlu mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari sumber limbah, proses pengumpulan dan pengolahan, hingga pemanfaatan kembali material daur ulang.
Karena itu, Nugroho mendorong kolaborasi antara penghasil limbah, pengumpul, pengolah, pelaku industri, pengguna material daur ulang, dan pemerintah. Kolaborasi tersebut, menurutnya, menjadi fondasi untuk membangun sistem pengelolaan EPS yang berkelanjutan.
Dari aspek kebijakan, Nugroho menilai pemerintah pusat dan daerah perlu memastikan aturan pengelolaan limbah berjalan secara efektif. Implementasi di daerah juga perlu mendapat perhatian karena kondisi lapangan dapat berbeda antara satu wilayah dan wilayah lainnya.
“Dalam seminar ini juga akan membahas kebijakan pengelolaan limbah Styrofoam secara nasional dan pengalaman implementasinya di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu sebagai bahan untuk memahami kesenjangan, kebutuhan, dan peluang penguatan sistem pengelolaan,” ungkapnya.
Sementara dari sisi teknologi, TM R&C Co., Ltd. memperkenalkan pendekatan sirkulasi sumber daya yang mencakup sejumlah tahapan. Materi tersebut meliputi pengumpulan, pemadatan, pengolahan, daur ulang, penjaminan mutu material hasil daur ulang, hingga pemanfaatannya kembali untuk kebutuhan industri.
“Seminar ini mengintegrasikan perspektif industri dan riset. Industri memberikan gambaran mengenai kebutuhan pasar, kesiapan penerapan, pemanfaatan material, serta tantangan implementasi. Sementara itu, BRIN menghadirkan inovasi riset daur ulang Polystyrene (PS) dan peluang kolaborasi R&D,” terangnya.
Seminar tersebut menghadirkan lima narasumber dari unsur pemerintah, industri, peneliti, dan mitra internasional. Mereka terdiri atas Agus Rusly, Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup; Ahn Sang-ho, CEO TM R&C; Achmad Hariadi, Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu; Maharani S. Anggia dari PT Maxfos Prima; serta Ernie S.A. Soekotjo, Perekayasa Ahli Madya BRIN.
Agus Rusly memaparkan arah kebijakan nasional dalam pengelolaan limbah Styrofoam. Sementara Ahn Sang-ho berbagi pengalaman Korea Selatan dalam mengembangkan riset dan teknologi daur ulang Styrofoam agar material tersebut dapat kembali dimanfaatkan sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.
BRIN dan TM R&C juga membuka peluang kerja sama penelitian dan pengembangan teknologi daur ulang dengan industri di Indonesia. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan teknologi dengan kebutuhan pasar serta kesiapan penerapannya di lapangan.
Achmad Hariadi menyampaikan pengalaman pengelolaan limbah Styrofoam di Kepulauan Seribu. Adapun Maharani S. Anggia membahas perspektif industri serta peran sektor usaha dalam menangani limbah plastik.
Dari sisi riset, Ernie S.A. Soekotjo memaparkan inovasi BRIN dalam mendukung daur ulang Polystyrene (PS) secara berkelanjutan. Ia juga mendorong terbentuknya kerja sama penelitian dan pengembangan antara lembaga riset dan sektor industri.
Melalui seminar tersebut, BRIN berharap para pemangku kepentingan dapat menghasilkan masukan berbasis riset, menyusun agenda penelitian, serta membuka peluang kolaborasi untuk memperkuat sistem pengelolaan limbah Styrofoam. Langkah itu sekaligus mendorong transformasi sektor industri dan manufaktur menuju sistem yang lebih berkelanjutan dengan menerapkan prinsip ekonomi sirkular.