Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
06 September 2026 | 07:19 WIB
Daerah

Mahasiswa UNEJ Bawa Kearifan Nelayan Puger ke Kelas, Perkuat Literasi Sains Hadapi Tsunami

Bfa3a41f df48 44ad 9486 2ec3ce96c3bd

 

JEMBER (Surau.ID) — Pengetahuan nelayan Puger dalam membaca bintang, bulan, arah angin hingga gelombang laut tak lagi berhenti sebagai warisan turun-temurun. Lima mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) membawa pengetahuan tersebut ke ruang kelas untuk dipadukan dengan konsep fisika, astronomi, oseanografi, dan teknologi pembelajaran.

Upaya itu menjadi bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) bertajuk “Transformasi Pembelajaran Fisika Berbasis Eksplorasi Astro-Oceanografi untuk Penguatan Literasi Sains dan Kesiapsiagaan Bencana Bermuatan Kearifan Lokal Pesisir Puger”.

Tim yang terdiri atas Shofiyatul Lailiyah, Ina Frebianti, Mabruroh, Aziziyatur Rahmah, dan Auri Letha Azzura Wijaya tersebut menjalankan program sejak Juni hingga September 2026 dengan bimbingan dosen Lailatul Nuraini, S.Pd., M.Pd.

Ketua tim, Shofiyatul Lailiyah, mengatakan gagasan tersebut berangkat dari kebutuhan menghadirkan pembelajaran fisika yang lebih dekat dengan kehidupan siswa di kawasan pesisir.

Menurut dia, fisika tidak seharusnya hanya dipahami sebagai kumpulan teori di dalam buku pelajaran. Pengetahuan yang telah lama digunakan masyarakat nelayan justru dapat menjadi pintu masuk untuk memahami konsep-konsep sains sekaligus membangun kesadaran mengenai risiko bencana di wilayah pesisir.

“Kami ingin siswa tidak hanya mempelajari fisika sebagai teori di dalam kelas. Pengetahuan yang sudah hidup di masyarakat nelayan kami jadikan pintu masuk untuk memahami sains, sekaligus membangun kesadaran bahwa mereka tinggal di wilayah yang memiliki potensi bencana tsunami,” kata Shofiyatul.

Membaca Langit Sebelum Melaut

9e4f7ccd 7cfc 4c49 b74e 24ea0c63db18

Untuk menyusun materi pembelajaran, tim terlebih dahulu menggali pengetahuan masyarakat Puger melalui wawancara dengan sejumlah nelayan. Dari proses tersebut, mahasiswa menemukan berbagai praktik membaca tanda-tanda alam yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan nelayan.

Salah satunya adalah penggunaan rasi bintang Talu-talu. Tiga bintang yang tersusun lurus dari timur ke barat tersebut dahulu digunakan sebagai penunjuk arah sekaligus penanda waktu sebelum masyarakat mengenal kompas.

Selain bintang, nelayan juga memperhatikan posisi bulan, arah angin, pola gelombang serta pasang-surut air laut sebelum menentukan aktivitas di laut.

Sugiyono, salah seorang nelayan Puger, mengatakan kemampuan membaca alam merupakan pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman dan diwariskan antargenerasi.

“Bagi nelayan, melihat bintang, bulan, angin dan gelombang bukan sekadar kebiasaan. Tanda-tanda alam itu menjadi bagian dari pengetahuan untuk menentukan waktu dan arah ketika berada di laut,” ujarnya.

Temuan tersebut kemudian diterjemahkan mahasiswa ke dalam pembelajaran sains modern. Tim mengembangkan tiga produk pembelajaran, yakni media reel berupa simulasi tsunami, media digital interaktif menggunakan Articulate Storyline, serta buku panduan bagi siswa.

Sains, Budaya, dan Mitigasi Bencana

11d819d6 3c8d 4e24 b87b 33a5cb8e5b6b

Tak hanya pengetahuan astronomi dan kelautan, tim juga memasukkan tradisi Petik Laut Puger sebagai bagian dari konteks pembelajaran. Tradisi tersebut digunakan untuk memperkenalkan nilai budaya, konservasi lingkungan laut, sekaligus pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Dosen pembimbing, Lailatul Nuraini, mengatakan pendekatan tersebut dirancang agar siswa dapat melihat keterkaitan antara teori yang mereka pelajari dengan lingkungan tempat mereka tinggal.

“Pembelajaran akan lebih bermakna ketika siswa dapat melihat hubungan antara konsep yang dipelajari dengan realitas di lingkungan mereka. Kearifan lokal masyarakat pesisir tidak kami tempatkan sebagai sesuatu yang terpisah dari sains, tetapi sebagai konteks untuk membangun pemahaman dan berpikir kritis,” jelasnya.

Implementasi program dilakukan di SMKS Puger pada Agustus 2026 dengan melibatkan 54 siswa kelas X Akuntansi dan X Usaha Layanan Wisata.

Para siswa tidak hanya menerima materi di dalam kelas. Mereka juga mencoba simulasi tsunami, mengeksplorasi media digital interaktif, serta melakukan pengamatan bulan untuk memahami hubungan antara fase bulan, pasang-surut air laut, dan aktivitas nelayan.

Efektivitas pembelajaran kemudian diukur melalui pretest dan posttest untuk melihat perkembangan literasi sains serta kesiapsiagaan siswa dalam menghadapi potensi bencana.

Tim juga mengamati langsung tradisi Petik Laut Puger pada 30 Juni 2026. Tradisi tersebut merupakan bentuk syukur masyarakat nelayan atas rezeki laut dan memiliki berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari khataman Al-Qur’an, tahlil, kirab budaya, pagelaran wayang kulit hingga prosesi pelarungan sesaji.

Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa UNEJ berupaya mengubah ruang kelas menjadi tempat bertemunya ilmu pengetahuan, budaya lokal, dan pendidikan kebencanaan.

Mereka berharap model pembelajaran berbasis astro-oceanografi dan kearifan lokal tersebut tidak berhenti di Puger, tetapi dapat dikembangkan di berbagai sekolah kawasan pesisir Indonesia.

“Kami berharap model pembelajaran ini dapat dikembangkan lebih luas di sekolah-sekolah pesisir Indonesia sehingga siswa mampu memahami lingkungan sekaligus lebih siap menghadapi potensi bencana yang ada di sekitarnya,” pungkas Shofiyatul.

Penulis: Agus Sholeh
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id