Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
20 Maret 2026 | 20:50 WIB
Aksara

Manusia Belang-Belang dalam Penetapan 1 Syawal

Nurul Yaqin
Penulis: Nurul Yaqin*

 

PERBEDAAN penetapan 1 Syawal kembali berulang. Seperti biasa, sebagian orang merayakan lebih dulu, sebagian lainnya menunggu. Perbedaan itu sendiri bukan masalah. Yang justru patut dipersoalkan adalah satu gejala yang kian tampak jelas: lahirnya “manusia belang-belang” dalam praktik keberagamaan kita.

Manusia belang-belang bukan mereka yang berbeda pilihan, melainkan mereka yang tidak memiliki pijakan. Hari ini mengikuti satu otoritas, besok beralih ke otoritas lain. Bukan karena argumentasi ilmiah yang berubah, melainkan karena pertimbangan yang jauh lebih sederhana: mana yang lebih cepat, mana yang lebih mudah, atau bahkan mana yang lebih sesuai dengan keinginan pribadi.

Dalam konteks penetapan 1 Syawal 2026, fenomena ini tampak gamblang. Ada yang sebelumnya mengikuti satu metode, namun tiba-tiba beralih tanpa penjelasan yang memadai. Ada pula yang menjadikan perbedaan sebagai ruang untuk “memilih hasil”, bukan memahami proses. Agama, dalam praktik seperti ini, direduksi menjadi sekadar opsi.

Padahal, dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, persoalan ini telah lama diantisipasi. dalam Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah yang dikarang KH Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa umat yang tidak memiliki kapasitas ijtihad wajib berpegang pada mazhab yang mu’tabar. Prinsip ini bukan soal fanatisme, melainkan soal disiplin berpikir. Tanpa itu, seseorang akan mudah tergelincir pada sikap serampangan dalam mengambil hukum.

Masalahnya, disiplin itu kini mulai longgar. Otoritas keilmuan tidak lagi menjadi rujukan utama. Sebaliknya, preferensi pribadi perlahan mengambil alih. Di titik ini, kita tidak lagi berbicara tentang perbedaan ijtihad, melainkan tentang krisis manhaj dan krisis cara beragama.

Fenomena “memilih yang paling mudah” dari berbagai pendapat bukanlah hal yang bisa dianggap biasa. Dalam tradisi fiqih, sikap semacam ini telah lama diperingatkan karena berpotensi melahirkan talfiq yang tidak terkendali menggabungkan pendapat tanpa dasar metodologis yang sah. Jika ini terus dibiarkan, maka batas antara yang disiplin dan yang serampangan akan semakin kabur.

Lebih jauh, manusia belang-belang tidak hanya membingungkan dirinya sendiri, tetapi juga merusak tatanan sosial keagamaan. Ketika setiap orang merasa bebas menentukan pilihannya tanpa pijakan yang jelas, maka otoritas kolektif kehilangan makna. Institusi keagamaan yang seharusnya menjadi rujukan bersama justru terpinggirkan oleh subjektivitas individu.

Dalam konteks Indonesia, keberadaan beberapa Ormas Islam sesungguhnya telah menyediakan kerangka metodologis yang jelas. Setiap perbedaan yang lahir di antaranya merupakan proses ijtihad yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun, ketika kerangka ini diabaikan dan hanya hasil akhirnya yang dipilih secara selektif, maka yang terjadi bukan lagi keberagaman, melainkan kerapuhan spiritual.

Di sinilah letak ironi kita hari ini. Di tengah melimpahnya akses informasi keagamaan, justru semakin banyak orang yang kehilangan arah. Mereka tahu banyak pendapat, tetapi tidak memiliki komitmen terhadap satu pun. Mereka mengenal berbagai metode, tetapi tidak benar-benar memahami satu pun.

Menjadi konsisten dalam bermazhab bukan berarti menutup diri dari perbedaan, melainkan memilih untuk berpijak. Sebab tanpa pijakan, seseorang tidak benar-benar berdiri ia hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa pernah menetap.

Akhirnya, persoalan penetapan 1 Syawal bukan sekadar soal kapan hari raya dirayakan. Ia telah membuka wajah lain dari problem keberagamaan kita: lahirnya manusia-manusia yang kehilangan arah, yang tidak lagi berpegang pada manhaj yang jelas. Mereka mungkin tampak bebas, tetapi sesungguhnya rapuh.

Dan dalam jangka panjang, yang rapuh seperti ini tidak hanya membahayakan dirinya sendiri, tetapi juga merusak bangunan keberagamaan secara keseluruhan.

Wallahu a’lam.

___________________________________

*) Tenaga Pengajar di Kepulauan Kangean, Sumenep, Madura.

Penulis: Nurul Yaqin
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id