JAKARTA (Surau.ID) — Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menegaskan ekonomi syariah menjadi solusi konkret menghadapi krisis global karena terbukti tangguh dan stabil di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, Rabu (22/04/2026).
Pernyataan itu disampaikan dalam Forum Bisnis B57+ Asia Pacific yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta.
Menurut Nasaruddin, ekonomi syariah memiliki keunggulan struktural karena mengintegrasikan nilai spiritual dengan praktik bisnis riil.
“Ekonomi syariah terbukti memiliki daya tahan tinggi dalam menghadapi gejolak karena ia berakar pada kepercayaan dan prinsip etika,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sistem ekonomi syariah berbeda dari konvensional yang rentan terhadap spekulasi karena setiap transaksi harus berbasis aset riil.
Prinsip keadilan melalui skema bagi hasil seperti mudharabah dan musyarakah dinilai mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih stabil.
Selain itu, larangan riba dan praktik spekulatif (maysir) membuat sistem ini lebih tahan terhadap krisis.
Nasaruddin menambahkan, ekonomi syariah bersifat inklusif dan dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat karena berorientasi pada pemerataan kesejahteraan.
Ia mendorong pelaku bisnis di kawasan Asia Pasifik untuk mengembangkan konsep Ukhuwah Iqtisadiyah sebagai penguatan kerja sama ekonomi berbasis nilai.
Menurut dia, langkah ini penting mengingat potensi ekonomi halal global diproyeksikan mencapai US$3 triliun.
Indonesia, kata dia, memiliki peluang besar menjadi pusat ekonomi syariah global karena konsisten berada di peringkat tiga besar Global Islamic Economy Indicator (GIEI).
Untuk menjaga momentum tersebut, Kementerian Agama berperan sebagai penjaga nilai melalui penguatan standar syariah dan integritas produk halal.
“Kami hadir sebagai mitra strategis agar ekosistem halal kita tidak hanya unggul secara kompetisi, tetapi juga tetap terjaga orisinalitas nilai-nilainya,” kata Nasaruddin.
Ia juga menyambut kehadiran forum B57+ sebagai jembatan kolaborasi multilateral bagi sektor swasta di negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Forum ini diharapkan dapat mempercepat posisi Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah di kawasan Asia Pasifik.
Acara tersebut turut dihadiri Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya dan Ketua B57+ Asia Pasifik Arsjad Rasjid.
Keduanya menilai sinergi pemerintah dan sektor swasta menjadi kunci mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan tahan terhadap krisis.