TANGERANG (Surau.ID) — Menteri Koperasi (Menkop) sekaligus Ketua Harian Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Ferry Juliantono mendorong penguatan ekosistem ekonomi syariah Indonesia melalui sinergi antara industri takaful (asuransi syariah), koperasi, serta kolaborasi internasional Indonesia–Malaysia.
Ia menegaskan bahwa pengembangan ekonomi syariah tidak cukup hanya berorientasi pada transaksi keuangan, tetapi juga harus mengukur dampaknya terhadap kemaslahatan, keadilan, dan keberlanjutan ekonomi. Ferry juga menempatkan program Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP) sebagai instrumen strategis untuk memperluas dampak ekonomi syariah hingga tingkat desa.
“Koperasi bisa terlibat dalam kegiatan pengembangan takaful ini. Sebab di Indonesia memiliki kekuatan pada basis ekonomi rakyat yang besar, jaringan komunitas yang luas, serta gerakan koperasi yang tumbuh hingga ke tingkat desa,” kata Menkop dalam Simposium “Reimagining Takaful for Sustainable World” di Menara Syariah PIK 2, Senin (22/6).
Kolaborasi Indonesia Malaysia Diperkuat
Ferry menjelaskan bahwa koperasi memiliki posisi penting dalam pengembangan industri takaful karena berbasis pada ekonomi rakyat yang tersebar hingga desa. Ia menilai nilai-nilai koperasi selaras dengan prinsip ekonomi syariah seperti gotong royong, keadilan, dan kesejahteraan bersama.
Ia menambahkan bahwa industri takaful tidak boleh hanya dipahami sebagai produk keuangan, tetapi sebagai implementasi nilai ta’awun atau saling tolong-menolong dalam sistem ekonomi. Karena itu, ia menekankan pentingnya penguatan dampak sosial dari industri keuangan syariah.
“Nilai-nilai yang menjadi fondasi koperasi yaitu gotong royong, kebersamaan, keadilan, dan kesejahteraan bersama, memiliki keselarasan yang sangat kuat dengan prinsip-prinsip ekonomi syariah,” katanya.
Dalam forum tersebut, Menara Syariah dan Universiti Utara Malaysia (UUM) menandatangani dua Nota Kesepahaman (MoU), masing-masing dengan MES dan Menara Syariah. Kerja sama ini difokuskan pada pengembangan ekosistem industri keuangan syariah dan takaful di Indonesia dan Malaysia.
Menkop Ferry menyebut bahwa ekonomi syariah dunia saat ini memiliki nilai konsumsi lebih dari USD 2 triliun per tahun dan terus meningkat. Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi syariah global, mengingat jumlah penduduk Muslim mencapai sekitar 240 juta jiwa.
Menurutnya, KDKMP akan menjadi motor penggerak yang memperkuat industri keuangan syariah hingga ke level desa, sekaligus memperluas peran Indonesia tidak hanya sebagai konsumen, tetapi juga produsen dan inovator ekonomi syariah global.
Optimisme Ekonomi Syariah Indonesia
Ferry, yang juga Ketua Harian MES, menyatakan optimisme bahwa Indonesia dapat menjadi pusat ekonomi syariah dunia jika seluruh pemangku kepentingan memperkuat kolaborasi.
“Oleh karena itu, kami memohon dukungan dari gerakan ekonomi syariah dan stakeholder terkait lainnya agar upaya ini dapat mendorong perubahan keadaan masyarakat di desa agar lebih sejahtera,” kata Menkop Ferry.
Sementara itu, Komisaris Utama Menara Syariah Harianto Solichin menekankan pentingnya implementasi nyata dari kerja sama yang telah disepakati. Ia menyebut potensi ekonomi syariah dan takaful di Indonesia masih sangat besar, namun belum tergarap secara optimal, sehingga membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Dari sisi akademik, Dekan Islamic Business School Universiti Utara Malaysia (UUM) Selamah Maamor menyampaikan bahwa kerja sama Indonesia–Malaysia dalam ekonomi syariah telah dirancang sejak 2024. Ia menyambut baik keterlibatan MES dalam memperkuat kolaborasi tersebut.
“Kami dari Malaysia akan bersama dengan industri di Indonesia untuk memastikan bahwa industri asuransi syariah dan ekonomi bisa terwujud lebih baik dan lebih maju,” katanya.
Penandatanganan MoU antara Menara Syariah, MES, dan UUM menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah lintas negara. Kesepakatan ini menandai penguatan peran Indonesia dan Malaysia dalam pengembangan industri takaful global.