BANGKALAN (Surau.ID) – Musyawarah Besar (MUBES) XI Ikatan Santri Alumni Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo (IKSASS) memasuki babak krusial melalui pelaksanaan sidang komisi. Forum yang membahas arah gerakan, penguatan kelembagaan, dan masa depan organisasi ini digelar di tiga lokasi berbeda di Pondok Pesantren Salafiyah Sa’idiyah, Bangkalan, pada Senin (18/5/2026).
Sejak pagi, peserta mulai memadati ruang sidang berdasarkan pembagian komisi dari panitia. Proses diskusi berjalan dinamis namun tetap diselimuti suasana kekeluargaan yang erat khas santri.
Pembahasan Mubes kali ini terbagi ke dalam tiga komisi utama dengan fokus yang berbeda:
Komisi A (Prinsip Perjuangan): Fokus pada internalisasi nilai dasar organisasi dalam khidmah sosial, keagamaan, dan kebangsaan.
Penguatan ini dinilai penting agar IKSASS tidak kehilangan identitas pesantren di era modern. “Organisasi ini lahir dari pesantren, maka ruh perjuangannya juga harus tetap berpijak pada nilai-nilai pesantren,” ujar salah satu peserta sidang.
Komisi B (AD/ART): Mengevaluasi aturan dasar, sistem tata kelola, dan mekanisme kepengurusan. Perdebatan di komisi ini berlangsung paling dinamis karena hasilnya akan menjadi kompas legalitas kepengurusan periode selanjutnya.
Komisi C (Rekomendasi Strategis): Menghimpun gagasan masa depan, mulai dari penguatan kaderisasi alumni, perluasan jejaring, hingga kontribusi nyata dalam menjawab tantangan masyarakat modern.
Panitia pelaksana menegaskan bahwa sidang komisi ini merupakan hulu dari segala keputusan strategis organisasi.
“Hasil dari masing-masing komisi nantinya akan dibawa ke sidang pleno untuk dibahas bersama dan ditetapkan sebagai keputusan resmi MUBES,” jelas perwakilan panitia.
Melalui perumusan ide-ide konstruktif ini, MUBES XI IKSASS diharapkan mampu menelurkan keputusan taktis yang menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren dan pengabdian bagi kemaslahatan bangsa.