PROBOLINGGO (Surau ID) — Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, 26 hingga 31 Agustus 2026, penguatan pendidikan pesantren menjadi salah satu isu penting yang perlu mendapat perhatian dalam perumusan arah pendidikan NU lima tahun ke depan.
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, KH Zuhri Zaini, berpandangan bahwa pendidikan NU harus tetap menjadikan agama sebagai fondasi utama, sembari membuka ruang bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
Menurut KH Zuhri, kemajuan zaman tidak seharusnya membuat pesantren meninggalkan identitas dan nilai dasar yang selama ini menjadi kekuatannya.
“Yang terutama itu adalah pendidikan agama. Agama itu ada keimanan, ada karakter, ada akhlak. Ilmu pengetahuan dan teknologi itu belakangan, tetapi tetap penting,” ujarnya kepada Surau.ID.
Pandangan tersebut dinilai relevan untuk menjadi bahan pembahasan dalam Muktamar ke-35 NU yang akan digelar pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Muktamar merupakan forum permusyawaratan tertinggi NU yang salah satunya berfungsi merumuskan program dan rekomendasi untuk arah organisasi lima tahun mendatang.
KH Zuhri menilai pendidikan pesantren tidak cukup hanya menghasilkan peserta didik yang menguasai ilmu pengetahuan.
“Pendidikan juga harus membentuk keimanan, akhlak, dan kemampuan mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari,” katanya
Ia mengingatkan bahwa penguasaan IPTEK tidak otomatis menjadikan seseorang memiliki akhlak yang baik. Teknologi dapat digunakan untuk kemaslahatan, tetapi juga dapat disalahgunakan apabila tidak disertai landasan moral.
“IPTEK itu bisa digunakan untuk kebaikan, tetapi juga bisa disalahgunakan. Karena itu, agama harus tetap menjadi pedoman,” tambahnya.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi NU untuk memperkuat pendidikan agama di pesantren dan madrasah. Pendidikan agama tidak cukup berhenti pada penyampaian pengetahuan, tetapi harus berujung pada pembentukan karakter dan perilaku.
Meski menempatkan agama sebagai fondasi, KH Zuhri tidak menghendaki pesantren menutup diri dari perkembangan teknologi.
Ia mengatakan metode pendidikan perlu menyesuaikan perubahan zaman. Teknologi komunikasi dan pembelajaran daring, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan pendidikan.
“Perkembangan zaman boleh diikuti selama tidak merusak inti pendidikan pesantren. Inti pendidikan pesantren tetaplah pendidikan agama,” tegasnya.
Pandangan serupa ia sampaikan terkait perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurutnya, AI harus ditempatkan sebagai alat bantu yang penggunaannya bergantung pada tujuan dan kemampuan orang yang memanfaatkannya.
“AI itu alat. Sama seperti komputer, sound system, CCTV, teropong, satelit dan alat-alat lainnya. Kalau digunakan dengan baik dan untuk tujuan yang benar, tentu bisa memberikan manfaat,” paparnya.
Namun, ia menekankan bahwa AI tidak boleh diposisikan sebagai pengganti manusia dalam pendidikan. Teknologi dapat membantu proses belajar, tetapi pendidikan tetap membutuhkan peran manusia dalam membentuk sikap, karakter, dan akhlak.
Selain teknologi, KH Zuhri menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya tenaga pendidik, perlu menjadi bagian dari rekomendasi pendidikan NU.
Baginya, perubahan zaman menuntut guru untuk terus meningkatkan kompetensi. Kemampuan yang sebelumnya belum menjadi kebutuhan utama, seperti penguasaan komputer dan teknologi digital, kini semakin diperlukan.
“Guru harus terus ditingkatkan kapasitasnya. Meskipun secara formal sudah memenuhi persyaratan, tetap perlu ada pelatihan supaya mampu mengikuti perkembangan zaman,” katanya.
Ia menilai keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada kurikulum. Kualitas tenaga pendidik juga menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan.
Karena itu, pembinaan dan pelatihan guru secara berkelanjutan perlu mendapat perhatian dalam kebijakan pendidikan NU ke depan.
KH Zuhri juga mendorong adanya pengembangan materi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan masa kini. Perkembangan AI dan kebutuhan penguasaan bahasa asing, seperti Mandarin dan Jepang, dapat menjadi bagian dari pengayaan materi pendidikan.
Meski demikian, penambahan materi tersebut tidak boleh menggeser pendidikan agama sebagai prioritas utama.
“Materi boleh berkembang sesuai kebutuhan zaman, tetapi jangan sampai materi tambahan itu mengurangi pendidikan agama,” ujarnya.
Menurutnya, keseimbangan antara pendidikan agama dan penguasaan ilmu pengetahuan menjadi tantangan yang harus dijawab NU melalui kebijakan pendidikan lima tahun ke depan.
Persoalan lain yang dinilai mendesak adalah penguatan akhlak generasi muda. Perkembangan teknologi digital membuat anak-anak dan remaja semakin mudah mengakses berbagai informasi dan berinteraksi dengan banyak pihak.
Kondisi tersebut, kata KH Zuhri, membawa manfaat sekaligus tantangan. Karena itu, pendidikan agama harus mampu membangun kontrol diri peserta didik agar tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang bertentangan dengan nilai agama.
“Pendidikan agama tidak cukup hanya memberikan pengetahuan. Pendidikan harus membentuk akhlak dan perilaku,” katanya.
Ia menilai pesantren memiliki posisi strategis dalam hal tersebut karena memiliki lingkungan, aturan, dan tradisi pendidikan yang dapat membantu membentuk karakter santri.
Untuk arah pendidikan NU lima tahun ke depan, KH Zuhri setidaknya menekankan empat hal. Pertama, mempertahankan agama sebagai fondasi pendidikan. Kedua, meningkatkan kualitas SDM tenaga pendidik melalui pembinaan dan pelatihan berkelanjutan.
Ketiga, menyesuaikan materi serta metode pembelajaran dengan perkembangan zaman. Keempat, memanfaatkan teknologi secara bijak agar memberikan manfaat bagi pendidikan tanpa menghilangkan jati diri pesantren.
“Pendidikan jangan hanya berorientasi pada IPTEK. Agama tetap menjadi dasar karena di dalamnya ada keimanan, akhlakul karimah, dan amal,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa pendidikan memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan sekadar pengajaran. Pengajaran berfokus pada penyampaian ilmu, sedangkan pendidikan bertujuan membentuk manusia secara utuh, baik dari aspek pengetahuan, sikap, maupun perilaku.
“Rekomendasi utamanya adalah agama tetap menjadi fondasi, SDM ditingkatkan, materi dan metode disesuaikan dengan perkembangan zaman, serta teknologi dimanfaatkan secara bijak,” pungkasnya.
Gagasan tersebut menjadi salah satu perspektif dari kalangan pesantren yang dapat dipertimbangkan dalam pembahasan pendidikan pada Muktamar ke-35 NU. Dengan tetap mempertahankan fondasi keagamaan sekaligus beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, pendidikan NU diharapkan mampu menjawab kebutuhan generasi mendatang tanpa kehilangan jati diri kepesantrenannya.