Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
13 Maret 2026 | 07:59 WIB
Aksara

Pascakebenaran di Medan Perang

Kim Al Ghozali
Penulis: Kim Al Ghozali*

 

KETIKA kecil, aku pernah mendapatkan pinjaman buku dari seorang paman, yaitu buku tentang perang dunia kedua. Aku tak punya ingatan tentang judul buku itu sekarang. Tapi samar-samar aku masih mengingat isinya. Dalam buku itu penuh gambar berwarna yang menyesaki halaman-halamannya dengan sedikit teks keterangan. Gambar-gambar itu adalah peralatan alutsista selama perang. Mulai dari rudal, tank, pesawat, kapal selam, dan lain sebagainya, yang masing-masing dinarasikan dengan kecanggihan luar biasa dalam riwayatnya selama perang dunia. Sulit membayangkan di depan gambar peralatan tempur yang canggih itu sedahsyat apa yang terjadi di lapangan peperangan.
 
Tapi itu dulu, lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Saat akses serba terbatas di desa. Kemudian aku mulai mendapat titik terang dari imajisi peperangan, ketika VCD masuk desa. Aku menonton film perang dari alat itu paling tidak sebulan sekali, ramai-ramai bersama penduduk kampung melalui VCD yang disewa oleh orang yang sedang hajatan.
 
Dan sekarang, sejak beberapa tahun ini, sejak pecah perang Rusia-Ukraina, perang dua belas hari Iran-Israel, dan terbaru perang 2026 (sedang berlangsung), ternyata hal seperti itu tak perlu susah payah diimajinasikan. Melalui layar pribadi yang berkilat di telapak tangan, perang sungguhan sedang ditonton (bukan lagi film); melalui siaran langsung berbagai platfrom media sosial. Tanpa sensor dan tanpa perlu susah payah mengimajinasikan, kengeriannya terinternalisasi terlebih dahulu lewat gambar.
 
Di era digital ini, perang rudal Iran–Israel dan AS telah bermetamorfosis menjadi tontonan global yang beredar secepat video hiburan. Serangan balasan yang dulu hanya bisa aku baca dalam buku pinjaman dari paman, kini hadir sebagai potongan klip vertikal: kilatan cahaya di langi Tel Aviv maupun Teheran, titik-titik panas di radar yang direkam dari layar ponsel, animasi lintasan misil yang diunggah oleh akun-akun anonim. Jutaan orang menyaksikannya melalui ponsel sambil rebahan di sofa, sama santainya seperti menonton film fiksi ilmiah di Netflix. Perang telah berubah menjadi konten. Ketakutan pun dipadatkan menjadi visual beresolusi tinggi yang dapat diulang, dan diberi musik dramatis dari tren TikTok.

Ingatan tentang buku hasil pinjaman itu, dengan gambar-gambar perang yang tak bergerak dan sedikit teks, terasa seperti peninggalan dari dunia lain. Waktu itu, ada jarak yang tegas antara “perang” dan “aku”, sekarang semua terasa janggal di kepala. Perang adalah cerita, adalah sejarah, adalah sesuatu yang selesai di masa lalu atau terjadi di negeri nun jauh di sana. Untuk memahaminya, aku harus membuka buku atau menonton film lewat VCD  orang sedang hajatan. Dengan cara itu ada ruang kosong yang harus diisi oleh imajinasi.
 
Ruang kosong itu kini telah dipenuhi oleh banjir informasi visual. Algoritma media sosial, yang didesain untuk memicu dopamin, memperlakukan perang tidak berbeda dengan pertandingan sepak bola atau trailer sinema: yang penting menarik, yang penting retensi penonton. Di balik setiap video rudal yang melesat, ada sistem yang menghitung durasi tonton, alih-alih jumlah korban. Realitas mengerikan berubah menjadi spektakel yang presisi dan bersih—seolah-olah perang adalah sebuah pertunjukan yang disiarkan dalam format sinematik. Kehancuran tubuh manusia dan puing-puing bangunan tersaji dalam resolusi 4K. Semakin jernih gambarnya, semakin kabur rasa ibanya.
 
Situasi ini semakin rumit dengan kehadiran teknologi kecerdasan buatan. Di antara video-video rudal yang melesat dan gedung runtuh yang direkam dari jarak jauh, beredar pula video-video hasil generasi AI yang tampilannya begitu meyakinkan. Sebuah video tentang pesawat menjatuhkan bom bisa dibuat hanya dari perintah teks, lengkap dengan efek ledakan dan asap yang membumbung. Yang dibuat oleh mesin ini bercampur aduk dengan yang direkam oleh manusia di lokasi kejadian, dan keduanya hadir di linimasa yang sama, tanpa label yang jelas. Akibatnya, kita memasuki apa yang disebut sebagai era pascakebenaran (post-truth), di mana fakta objektif kalah pengaruh dari emosi dan keyakinan pribadi, apalagi ketika sumber informasi sulit diverifikasi. Membentuk opini publik. Kebenaran akhirnya menjadi barang mewah ketimbang akses membaca atau menonton film layaknya dulu di kampung.
 
Guy Debord, seorang filsuf Perancis, pernah menulis tentang Masyarakat Spektakel. Ia bilang kurang lebih begini: “Segala sesuatu yang dahulu langsung dihayati, kini telah menjauh menjadi representasi.” Benar saja aku rasa omongan dia (bukan sebatas omon-omon). Perang hari ini bukan lagi peristiwa yang dihayati, orang-orang merepresentasi yang dikonsumsi. Ia adalah tontonan jarak jauh. Kita melihat gedung pencakar langit di Gaza atau Kiev runtuh dalam gerak lambat, sama seperti kita melihat trailer film bencana. Perbedaan antara realitas dan simulasi menjadi begitu tipis, bahkan nyaris tak terbedakan. Jean Baudrillard, meneruskan gagasan ini, memperingatkan kita tentang era hiperrealitas, tanda-tanda dan citra-citra menjadi lebih nyata daripada realitas itu sendiri. Maka, lahirlah ironi zaman kita. Perang sungguhan sulit dibedakan dari simulasi; dan simulasi, karena tampilannya yang lebih sempurna dan dramatis, justru lebih sering dipercaya sebagai kebenaran.
 
Dunia menonton rudal melesat tanpa merasakan getarannya. Kita bisa menyaksikan kehancuran sebuah kota di malam hari, lalu dengan tenang menyapu jari ke atas layar (swipe up) untuk melihat video kucing lucu atau tutorial memasak. Perang telah menjadi tontonan yang bisa “ditinggalkan” begitu saja dengan menutup aplikasi. Dan terasa biasa.

_____________________________________

*) Penyair kelahiran Probolinggo, dan kini mukim diSurabaya. Buku terbaru, Setelah Deru Paku dan Palu (JBS, 2025)

Penulis: Kim Al Ghozali
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id