YOGYAKARTA (Surau.ID) – PBNU mendesak pesantren untuk menyusun sistem pencegahan kekerasan yang adaptif guna meminimalkan risiko kerentanan santri di tengah peningkatan jumlah murid yang pesat di era modern.
Penguatan sistem ini difokuskan pada penyusunan standar operasional prosedur (SOP) dan penataan lingkungan fisik pesantren agar tidak ada ruang bagi penyalahgunaan relasi kuasa yang memicu perilaku kekerasan.
Langkah ini bukanlah upaya meninggalkan tradisi, melainkan memastikan nilai-nilai luhur kepesantrenan tetap terjaga tanpa membuka celah bagi praktik paksaan yang merugikan santri di masa kini.
Pentingnya Adaptasi Tata Kelola
Pesantren masa kini menghadapi tantangan kompleks dengan jumlah santri yang mencapai ribuan, sehingga sistem lama memerlukan penyesuaian tata kelola. Perubahan realitas internal menuntut ekosistem yang lebih protektif terhadap seluruh warga pesantren.
Penyesuaian tata kelola bertujuan memastikan nilai adab dan takdzim tetap dijalankan atas kesadaran santri, bukan karena tekanan relasi kuasa. Evaluasi praktik rutin menjadi kunci untuk mempertahankan marwah lembaga di tengah perubahan sosial.
Penguatan Sistem Perlindungan
Langkah strategis ini diwujudkan melalui penguatan kapasitas pengasuh serta pembenahan manajemen untuk menciptakan lingkungan yang aman. Hal ini dilakukan demi menjaga martabat institusi pesantren agar tetap menjadi ruang pendidikan yang ideal.
“Kita berharap pesantren mampu membangun sistem perlindungan yang semakin kuat tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur kepesantrenan,” ujar Penanggung Jawab Saka Pesantren PBNU, Alissa Wahid, dalam keterangan yang diterima pada Jumat (17/7/2026).
Sinergi antara modernisasi sistem dan pelestarian nilai tradisional diharapkan mampu menutup celah kekerasan sekaligus menjamin keberlangsungan pendidikan karakter yang berkualitas bagi para santri di seluruh nusantara.