YOGYAKARTA (Surau.ID) – Penanggung Jawab SAKA PBNU, Alissa Wahid, menegaskan bahwa respons cepat, keterbukaan, dan penanganan tepat terhadap kasus kekerasan menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap lingkungan pesantren saat ini.
Upaya pencegahan kekerasan saja tidak cukup, pesantren harus mampu menunjukkan komitmennya melalui sikap transparan setiap kali muncul persoalan. Kredibilitas lembaga justru diuji dari bagaimana mereka menyikapi tantangan tersebut.
Strategi komunikasi krisis yang presisi serta keberpihakan penuh kepada korban menjadi elemen vital. Pendekatan ini dinilai jauh lebih efektif dibandingkan tindakan menutup-nutupi kasus yang berpotensi merusak reputasi jangka panjang.
Penguatan Komunikasi dan Pencegahan
Setiap pesantren diharapkan memiliki strategi komunikasi krisis yang terukur untuk memberikan pembaruan informasi secara berkala. Selain itu, pesantren perlu secara aktif mensosialisasikan berbagai langkah perlindungan, bahkan saat tidak terjadi kasus.
Transparansi mengenai mekanisme perlindungan santri mencerminkan keseriusan lembaga dalam menciptakan ruang belajar yang aman. Langkah ini berfungsi sebagai bukti nyata komitmen pengasuh dalam menjaga martabat institusi dan kesejahteraan santri.
Langkah Konkret SAKA PBNU
Dampak positif dari keterbukaan ini akan memperkuat ekosistem pesantren yang inklusif. “Bukan tidak adanya kasus yang menunjukkan pesantren itu baik, melainkan seberapa cepat dan tepat pesantren menangani persoalan tersebut,” ujar Alissa Wahid, Jumat (17/7/2026).
Sebagai implementasi, RMI PBNU bersama SAKA Pesantren telah menggelar pelatihan bagi para pendamping pesantren di Yogyakarta. Program ini dirancang untuk mencetak fasilitator yang mampu mereplikasi sistem perlindungan di berbagai daerah.
Kepercayaan publik adalah aset berharga yang harus dijaga dengan kejujuran. Saat pesantren berani terbuka dan bertindak demi kemaslahatan, mereka sesungguhnya sedang merawat masa depan pendidikan karakter bagi generasi penerus bangsa.