KOTA PROBOLINGGO (Surau.ID) – Ketua Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (Badko HMI) Jawa Timur, Khairul Anam, mengajak mahasiswa dan generasi muda untuk terus menjaga nilai-nilai kebangsaan serta semangat gotong royong sebagai fondasi utama kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurut Khairul Anam, Pancasila selama 81 tahun terakhir telah menjadi dasar yang menjaga persatuan dan arah pembangunan bangsa di tengah berbagai perubahan zaman dan tantangan yang terus berkembang.
“Saat ini bangsa Indonesia telah memasuki usia 81 tahun sejak lahirnya Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa. Pancasila telah menjadi fondasi utama dalam menjaga persatuan, keutuhan, dan arah pembangunan nasional di tengah berbagai tantangan zaman,” ujarnya dalam Diskusi Publik memperingati Hari Lahir Pancasila bertema “Pancasila Menjaga Arah Indonesia” di Gedung Mina Samudra atau UPT PTKP3, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, Rabu (24/6/2026) malam.
Khairul Anam juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi bangsa, mulai dari ancaman terhadap integrasi nasional, lunturnya nilai kebangsaan, hingga persoalan moral generasi muda.
Karena itu, ia menegaskan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga nilai-nilai Pancasila sekaligus menjadi motor perubahan sosial yang positif.
“Mahasiswa memiliki peran sebagai agent of change (agen perubahan) yang diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan sosial yang positif, kritis terhadap berbagai persoalan bangsa, serta tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila,” tegasnya.
Ia menilai peran generasi muda sangat penting dalam memastikan Indonesia tetap berada pada jalur pembangunan yang sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa.
Gotong Royong Jadi Inti Pancasila
Khairul Anam juga mengingatkan bahwa semangat gotong royong merupakan inti dari nilai-nilai Pancasila. Ia merujuk pada pemikiran Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno, yang pernah merumuskan Pancasila menjadi Trisila dan kemudian diperas menjadi Eka Sila, yakni gotong royong.
Menurutnya, konsep tersebut menunjukkan bahwa gotong royong bukan sekadar budaya, melainkan identitas bangsa yang harus terus dijaga.
“Konsep Pancasila pernah dirumuskan oleh Ir. Soekarno menjadi TriSila dan kemudian diperas lagi menjadi Eka Sila, yaitu gotong royong. Hal tersebut menunjukkan bahwa semangat gotong royong merupakan inti dari kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia,” kata Khairul.
Ia menambahkan, derasnya arus perubahan global tidak boleh membuat bangsa Indonesia kehilangan jati diri. Sebaliknya, nilai gotong royong harus terus diwariskan kepada generasi muda sebagai kekuatan sosial bangsa.
Pembangunan Harus Berpihak kepada Rakyat
Selain membahas nilai kebangsaan, Khairul Anam juga menyinggung arah pembangunan nasional dan berbagai kebijakan pemerintah yang membutuhkan anggaran besar.
Ia menegaskan bahwa setiap kebijakan publik harus dirancang secara matang agar tidak mengurangi perhatian terhadap sektor-sektor lain yang juga dibutuhkan masyarakat.
“Bahwa pembangunan pada hakikatnya harus menempatkan rakyat sebagai subjek utama, bukan sekadar objek pembangunan. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah harus berorientasi pada kepentingan dan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Khairul, tugas pemerintah tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menciptakan kondisi yang memungkinkan masyarakat menjadi mandiri dan mampu meningkatkan kualitas kehidupannya sendiri.
Terkait program ketahanan pangan nasional, ia mengajak masyarakat untuk memahami berbagai langkah yang ditempuh pemerintah. Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan program tersebut tetap harus bertumpu pada kemandirian masyarakat.
“Keberhasilan ketahanan pangan tetap harus bertumpu pada kemandirian masyarakat, sehingga rakyat memiliki peran dan kendali yang kuat dalam menjaga ketersediaan serta keberlanjutan pangan di daerah masing-masing,” pungkasnya.