PROBOLINGGO (Surau.ID) — Calon Ketua Umum Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Probolinggo, Mustofa, mengajak para kader merefleksikan kembali nilai-nilai kepemimpinan daerah melalui kegiatan ziarah ke makam Bupati Pertama Probolinggo, Djoyolelono, pada Selasa sore (1/9/2026).
Kegiatan ziarah yang diikuti oleh sejumlah kader PMII Probolinggo ini tidak sekadar menjadi agenda spiritual, tetapi juga momentum untuk membaca ulang jejak sejarah kepemimpinan di Probolinggo.
Mustofa mengungkapkan bahwa keberhasilan dan perjuangan pemimpin masa lalu perlu menjadi cermin bagi kader pergerakan dalam mengambil keputusan serta memahami kebutuhan masyarakat di tengah tantangan zaman.
Menurutnya, esensi kepemimpinan bukan terletak pada jabatan, melainkan pada jejak pengabdian yang ditinggalkan.
“Ziarah ini bukan hanya tentang mendatangi makam, tetapi bagaimana kita belajar dari sejarah,” ucapnya
Djoyolelono, lanjutnya, pernah memimpin Probolinggo pada masanya, dan hari ini kita datang untuk merefleksikan apa yang bisa kita pelajari dari kepemimpinan beliau.
“Seorang pemimpin boleh berganti, tetapi nilai pengabdian dan keberpihakan kepada masyarakat harus terus hidup,” katanya.
Ia menambahkan, kesadaran sejarah dan tanggung jawab sosial sangat krusial agar arah perjuangan organisasi tidak kehilangan pijakan.
Bagi kader PMII, pemahaman terhadap rekam jejak sejarah menjadi fondasi penting sebelum melangkah ke pembentukan kepemimpinan masa depan.
Rangkaian kegiatan tersebut diakhiri dengan doa bersama dan diskusi ringan di area pemakaman. Melalui agenda ini, Mustofa berharap seluruh kader PMII Probolinggo tak sekadar terampil mengelola organisasi, tetapi juga peka terhadap isu-isu sosial daerah.
“Kalau kita ingin memimpin masa depan, maka kita harus mau belajar kepada mereka yang pernah memimpin di masa lalu. Sejarah bukan untuk dipuja, tetapi untuk dibaca, dikritisi, dan dijadikan pijakan agar kita mampu melahirkan kepemimpinan yang lebih baik,” tutupnya.