KEDIRI (Surau.ID) – KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur melontarkan humor bernas yang menyindir pengurus Nahdlatul Ulama dalam pembukaan Muktamar ke-30 NU di Pesantren Lirboyo, Kediri, 21 Desember 1999.
Kehadiran sosok Gus Dur senantiasa dinantikan masyarakat karena kemampuannya menyampaikan tema-tema rumit secara sederhana lewat kelakar khas. Humornya bukan sekadar pelipur lara, melainkan sarana efektif untuk menyadarkan kesalahan pengurus NU.
Gus Dur menyoroti kecenderungan warga NU yang mulai melupakan faktor keberkahan dan Keagungan Tuhan. Perubahan perilaku pengurus daerah yang lebih mengedepankan relasi kekuasaan dibanding keikhlasan menjadi keprihatinan mendalam baginya.
Sentilan Moral untuk Pengurus NU
Gus Dur menceritakan kepedihannya saat dijemput panitia daerah yang bangga atas hubungan baik dengan pejabat lokal. Ketimbang memuji Tuhan, pengurus justru memamerkan keakraban bersama bupati saat menyambut mubaligh.
Pertanyaan kritis dilontarkan untuk mengetuk kesadaran kolektif organisasi Islam tersebut. Kendati merespons dengan senyuman outward, hati mantan Presiden Republik Indonesia itu mengaku menangis melihat pergeseran nilai kepemimpinan NU.
Kembali ke Akar Kesederhanaan Organisasi
Penataan kembali komitmen kebangsaan harus dimulai dari penguatan akar rumput. Pengurus diimbau meninggalkan watak oportunis demi menjaga keutuhan moral warga NU dalam menghadapi ancaman tantangan zaman.
“Lupakan itu semua, silakan kembali membangun bangsa ini dari bawah, dengan keluguan, kelugasan, dan kesederhanaan Nahdlatul Ulama,” ujar KH Abdurrahman Wahid dalam pidato pembukaan Muktamar.
Langkah penyadaran ini menjadi pengingat penting bahwa integritas dan kesederhanaan adalah fondasi utama perjuangan Nahdlatul Ulama dalam menjaga keutuhan bangsa.