Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
31 Mei 2026 | 10:20 WIB
Daerah

Universitas Ibrahimy Dukung Sukorejo Jadi Desa Adat

IMG
Ketua BEM Tarbiyah Universitas Ibrahimy, Abdul Halim, menyampaikan dukungan terhadap wacana Desa Adat Sukorejo (Foto: Surau.ID/Ist).

 

SITUBONDO (Surau.ID) – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Tarbiyah Universitas Ibrahimy menyatakan dukungannya terhadap wacana pembentukan Desa Adat Sukorejo. Gagasan tersebut dinilai dapat memperkuat upaya pelestarian budaya lokal, tradisi pesantren, serta nilai-nilai keislaman yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sukorejo, Kabupaten Situbondo.

Ketua BEM Fakultas Tarbiyah Universitas Ibrahimy, Abdul Halim, mengatakan Sukorejo memiliki karakter khas yang terbentuk dari perjalanan panjang pendidikan Islam dan aktivitas sosial keagamaan masyarakat setempat. Identitas tersebut, menurut dia, perlu dijaga agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Ia menjelaskan, keberadaan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo selama ini berperan besar dalam membentuk wajah sosial, pendidikan, dan keagamaan kawasan tersebut. Peran itu menjadikan Sukorejo tidak hanya dikenal sebagai wilayah permukiman, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran dan dakwah Islam.

“Kami memandang wacana desa adat sebagai upaya menjaga identitas Sukorejo yang selama ini dikenal sebagai pusat pendidikan Islam, budaya pesantren, dan penguatan nilai-nilai religius masyarakat,” ujarnya.

Pelestarian Identitas Lokal

Menurut Abdul Halim, perkembangan teknologi, globalisasi, dan perubahan sosial membawa tantangan tersendiri bagi keberlangsungan nilai-nilai lokal. Karena itu, keberadaan desa adat dinilai dapat menjadi salah satu instrumen untuk mempertahankan karakter masyarakat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Ia menilai pembangunan daerah tidak semata-mata berorientasi pada pertumbuhan fisik maupun ekonomi. Kemampuan menjaga jati diri dan akar budaya masyarakat juga menjadi bagian penting dalam proses pembangunan yang berkelanjutan.

“Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang tetap berpijak pada akar budaya masyarakatnya. Identitas lokal harus menjadi fondasi dalam setiap proses pembangunan,” katanya.

Abdul Halim menambahkan bahwa Sukorejo memiliki modal sosial yang kuat berupa tradisi keagamaan, budaya pesantren, dan berbagai bentuk kearifan lokal yang masih terjaga hingga saat ini. Potensi tersebut dinilai menjadi landasan yang mendukung terwujudnya konsep desa adat.

Selain menyatakan dukungan, BEM Fakultas Tarbiyah Universitas Ibrahimy juga mendorong agar proses perumusan desa adat dilakukan secara partisipatif. Keterlibatan tokoh agama, akademisi, pemerintah, kalangan pemuda, serta masyarakat umum dianggap penting agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar mencerminkan kebutuhan warga.

“Kami berharap seluruh elemen masyarakat dilibatkan agar desa adat benar-benar lahir dari kebutuhan dan aspirasi masyarakat Sukorejo sendiri,” ungkapnya.

Ia optimistis Desa Adat Sukorejo dapat menjadi sarana menjaga warisan sejarah dan tradisi sekaligus memperkuat posisi Sukorejo sebagai pusat pendidikan Islam dan peradaban pesantren yang dikenal luas di tingkat regional maupun nasional.

“Desa adat dapat menjadi media untuk merawat sejarah, menjaga tradisi, dan memperkenalkan kekayaan budaya pesantren kepada generasi mendatang tanpa kehilangan jati diri di tengah perkembangan zaman,” pungkasnya.

Penulis: Nurkhaliq BR
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id