Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
15 Mei 2026 | 13:45 WIB
Daerah

Potret Pilu Keluarga di Situbondo: Lima Orang Bertahan di Tengah Sakit dan Kemiskinan

IMG
Tutun dan keluarganya bertahan hidup di rumah rapuh di Dusun Ardani, Situbondo, di tengah sakit dan keterbatasan ekonomi.

 

SITUBONDO (Surau.ID) – Sebuah keluarga di Dusun Ardani, Desa Peleyan, Kecamatan Kapongan, Situbondo, hidup dalam kondisi serba kekurangan di rumah sempit berdinding kalsiboard bekas yang nyaris roboh. Di rumah berukuran sekitar 4 x 5 meter hingga 4 x 6 meter itu, lima orang tinggal dalam keterbatasan ekonomi dan kesehatan.

Kepala keluarga, Tutun, 53 tahun, sudah tidak mampu bekerja secara normal akibat sakit yang dideritanya sejak awal 2023. Kondisi fisiknya terus menurun. Salah satu tangannya mengecil dan melemah sejak hampir 10 tahun terakhir. Belakangan, ia juga didiagnosis menderita gagal ginjal dan sempat menjalani cuci darah.

Namun, pengobatan itu terhenti bukan karena biaya medis, melainkan karena tidak adanya ongkos transportasi menuju rumah sakit.

“Saya pernah cuci darah satu kali. Biayanya memang ditanggung, tapi saya tidak punya ongkos pulang-pergi ke rumah sakit. Setelah itu saya tidak lanjut lagi,” kata Tutun saat ditemui di kediamannya, Rabu, 14 Mei 2026.

Dalam kondisi sakit, Tutun mengaku masih sempat memaksakan diri bekerja sebagai buruh serabutan demi memenuhi kebutuhan makan keluarga. Namun kini, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan berbaring dan duduk di rumah.

Sementara itu, istrinya, Suni, 56 tahun, menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai buruh tani harian. Penghasilannya tidak menentu karena pekerjaan hanya datang jika ada warga yang mengajak bekerja.

“Kalau ada pekerjaan saya berangkat. Penghasilan paling sekitar Rp40 ribu sampai Rp50 ribu sehari. Kadang anak saya, Randi, ikut membantu,” ujar Suni.

Pasangan ini memiliki dua anak. Anak pertama sudah menikah dan tinggal di luar desa dengan kondisi ekonomi yang juga terbatas. Sedangkan anak keduanya terpaksa putus sekolah setelah lulus SMP karena keterbatasan biaya.

“Kami tidak punya biaya untuk sekolah lagi, uang saku pun tidak ada. Yang penting sehari bisa makan saja sudah bersyukur,” kata Suni.

Selain Tutun, Suni, dan Randi yang berada dalam satu kartu keluarga, di rumah tersebut juga tinggal dua lansia berbeda kartu keluarga, yakni Saimo, 73 tahun, dan B. Sum, 76 tahun. Keduanya merupakan orang tua Tutun dan Suni. Salah satunya dilaporkan mengalami gangguan penglihatan hingga tidak bisa melihat.

Warga setempat, Zainiya, mengatakan kondisi keluarga itu memang memprihatinkan dan selama ini kerap bergantung pada bantuan tetangga sekitar.

“Kadang untuk makan sehari-hari mereka harus menunggu bantuan dari warga,” ujarnya.

Berdasarkan data yang dihimpun, keluarga Suni saat ini masuk dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) kategori desil 2. Bantuan yang diterima baru berupa Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan sembako. Terakhir kali bantuan diterima pada tahap pertama tahun 2026.

Pendamping PKH Situbondo, Sulhaedi, mengatakan bantuan tahap kedua tahun 2026 masih dalam proses pencairan.

“Ibu Suni masih terdaftar sebagai KPM PKH eligible. Saat dicek di aplikasi SIKS-NG, bantuannya masih proses pencairan,” kata Sulhaedi.

Adapun dua lansia yang tinggal serumah dengan keluarga tersebut disebut belum pernah menerima bantuan sosial apa pun.

“Pak Saimo dan Bu Sum memang belum menerima bantuan. Kami akan berkoordinasi dengan pemerintah desa agar bisa diusulkan sebagai penerima bansos,” kata Babinsa Desa Peleyan.

Kondisi keluarga itu mulai mendapat perhatian setelah informasi mengenai kehidupan mereka beredar di media sosial. Ketua NGO PERKASA Situbondo, Mohammad Sadik, mengaku langsung mendatangi lokasi untuk memastikan kondisi sebenarnya.

“Ternyata benar, kondisinya sangat memprihatinkan. Ada anggota keluarga yang sakit menahun dan lansia yang sudah tidak bisa melihat. Rumahnya juga sangat tidak layak,” ujarnya.

Pada Rabu siang, sejumlah pihak dari Kodim 0823 Situbondo, termasuk Kasdim, Danramil Kapongan, dan Babinsa Desa Peleyan, mendatangi lokasi dan membawa bantuan kebutuhan dasar bagi keluarga tersebut.

Meski demikian, hingga laporan ini ditulis, belum ada kunjungan resmi dari pemerintah daerah. Keluarga mengaku hanya pernah didatangi seorang anggota DPRD Situbondo yang disebut mengusulkan rumah mereka masuk program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

Penulis: Roz
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id