PROBOLINGGO (Surau.ID) – Masjid Nurul Hidayah Tiris dipenuhi jamaah dalam rangkaian Safari Ramadan yang digelar Pengurus Ranting NU Tegalwatu bersama MWCNU Tiris Barat, Minggu (23/2/2026). Kegiatan diawali dengan pembacaan tahlil, dilanjutkan buka puasa bersama, serta kultum usai salat tarawih.
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Masrukhin Hamdan menyampaikan materi tentang sejarah puasa dalam tradisi para nabi. Ia menjelaskan bahwa ibadah puasa telah dikenal sejak masa Nabi Adam dan dilanjutkan oleh nabi-nabi setelahnya.
Menurutnya, praktik puasa pada masa para nabi terdahulu memiliki bentuk yang berbeda dengan syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Ia menyebut, pada masa awal, kewajiban puasa dilaksanakan dalam hitungan hari tertentu.
“Kewajiban puasa sudah ada sejak zaman Nabi Adam. Namun pelaksanaannya tidak sama seperti sekarang, saat itu dilakukan tiga hari,” ujarnya.
Alumnus Pondok Pesantren Lirboyo itu menambahkan, kewajiban puasa selama satu bulan penuh dalam Islam ditetapkan setelah turunnya Surah Al-Baqarah ayat 183–187, yakni sekitar dua tahun setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah.
Ia menegaskan bahwa esensi puasa dari masa ke masa tetap sama, yakni membentuk ketakwaan manusia kepada Allah SWT.
“Tujuan pokok puasa tetap sama seperti yang diperintahkan kepada umat para nabi terdahulu, yaitu agar manusia menjadi pribadi yang bertakwa,” katanya.
Selain membahas sejarah puasa, Ustadz Masrukhin juga menyinggung pentingnya menjaga dan merawat organisasi Nahdlatul Ulama sebagai warisan ulama. Ia menutup ceramahnya dengan kisah karomah KH Kholil Bangkalan yang memberi paku berkarat kepada seorang fakir hingga akhirnya menjadi jalan keberkahan.
“Jika paku berkarat saja bisa membawa keberkahan, apalagi organisasi yang diwariskan para ulama. Itu jauh lebih berharga,” tuturnya.
Safari Ramadan tersebut menjadi momentum mempererat silaturahmi antar pengurus dan jamaah, sekaligus memperdalam pemahaman keagamaan masyarakat di wilayah Tiris.