Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
31 Desember 2025 | 17:13 WIB
Aksara

2026 Datang dari Luka 2025

Ach Jalaluddin Ar Rumi
Ach Jalaluddin Ar-Rumi

 

Penulis: Ach Jalaluddin Ar-Rumi* –

HAPPY New Year, dzikir tahunan di penghujung tahun yang sering kita dengar seakan-akan hidup ada tombol resetnya. Tahun berganti, kalender berubah, gemerlap kembang api menyambut dengan senyuman “sebagian masyarakat”. Namun, tahun 2026 nyatanya tidak datang pada ruang kosong, ia datang dengan penuh goresan luka, tangisan, jeritan yang tidak semua akan menjadi sembuh hanya karena malam tahun baru datang.

Bagi kalangan masyarakat kecil, tahun 2025 adalah tahun yang tidak mudah, hidup dengan penuh kewaspadaan setiap harinya, menunda keinginan, melihat isi kantong agar dapur tetap menyala, menyesuaikan mimpi dengan kemampuan, bencana yang selalu mengintai. Sehingga kita tahu bahwa bertahan dari semua ini adalah pekerjaan penuh waktu. Tidak semua luka terlihat dengan kasat mata, ada lelah yang disimpan, ada tangis yang sembunyikan, ada kekhawatiran yang tidak dapat disampaikan, maka datangnya tahun 2026 tetap akan membawa beban cerita dari tahun sebelumnya. Dan tidak semua memasang harapan yang tinggi dengan adanya tahun baru, tetapi sebagian berharap agar keadaan di tahun 2026 tidak lebih buruk dari kemarin.

Kita sering lupa bahwa manusia tidak hidup dalam rangkaian bingkai yang rapi, luka ekonomi, sosial dan psikologis tidak akan sirna dengan gemerlapnya pergantian tahun. Harga bahan pangan pokok sering menanjak, beban pekerjaan yang terus bertambah tanpa kepastian tambahan gaji, rasa aman yang tidak menentu menjadi bagian sehari-hari. Tahun baru datang tetapi realitas tetap berjalan dengan ritme yang sama tanpa ada pergantian. Di sinilah banyak dari kita memilih diam bukan karena pasrah, tetapi tidak ada tempat untuk mengeluh.

Dalam keadaan seperti ini, agama datang sebagai tempat bernaung, bukan sekadad slogan tapi sebagai pegangan hati agar tidak runtuh. Doa-doa dipanjatkan dengan sederhana “semoga diberi kekuatan, kecukupan dan rasa aman dalam menjalani kehidupan.” Bagi orang kecil iman bukan hiasan tapi penyangga hidup. Mereka percaya bahwa tuhan tidak menilai dari gemerlapnya, mewahnya perayaan tahun baru, tetapi, ketekunan dalam menjalani hari.

Kadang mereka harus bertahan dengan nasihat “banyak-banyak bersyukur.” Nasihat ini memang tidak salah. Namun, bagi orang kecil bersyukur seringkali datang dengan tuntutan agar mengalah dan memahami keadaan, seolah-olah ikhlas dan sabar adalah solusi tunggal dari persoalan kehidupan yang kompleks. Padahal iman dan agama tidak mengajarkan untuk diam ketika ketidakadilan terus menerus dilakukan. Dan ikhlas bukan alasan untuk menutup mata dari kesenjangan yang ada.

Jika tahun 2025 meninggalkan pusparagam luka, maka tahun 2026 adalah tahun untuk belajar; belajar mendengarkan suara-suara yang terpinggirkan; memahami harapan-harapan yang tertunda; mewujudkan keinginan-keinginan yang lama hilang.

Masyarakat kecil tidak memiliki banyak harapan. Mereka tidak berharap hidup tanpa masalah sehingga tidak perlu takut dengan tuntutan. Mereja hanya berharap beban tidak terus ditumpukan kepada pundak yang sama, mereka hanya berharap pekerjaanya dihargai, suaranya didengar, keadilan digaungkan, kesejahteraan diwujudkan. Bukan hanya disuruh bertahan melihat kenyataan. Mereka menginginkan kebijakan tidak hanya diatas kertas, tetapi terasa di dapur dan di dompet. Luka di tahun 2025 mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh mengesampingkan manusia, ekonomi tidak boleh mengorbankan keselamatan.

Masuk 2026, kita tidak membawa kenangan masa lalu yang semuanya manis, namun luka juga bisa menjadi sumber kesadaran. Dengan luka orang belajar tentang batas, tentang empati dan pentingnya kebersamaan. Dalam islam, ujian bukan untuk mencari kesalahan atau melemahkan, tapi untuk mendewasakan. Selama masih ada kepedulian, nilai empati dan keinginan untuk menjadi lebih baik dan berubah maka luka tidak harus berakhir dengan kepahitan.

Akhirnya memang 2026 tidak hadir di ruang kosong, ia datang dengan penuh cerita panjang di tahun sebelumnya. Namun, mengakui luka 2025 bukan bentuk dari pesimisme, tapi langkah awal untuk jujur terhadap keadaan. Dengan kejujuran akan tumbuh optimisme untuk melangkah lebih baik dengan tetap berpijak kepada realitas dan nilai kemanusian. Selama iman dan kepedulian sosial masih terjaga maka luka lama tidak akan sia-sia.

___________________________

*) Tenaga Pengajar di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Founder Aksara Center.

Penulis: Ach Jalaluddin Ar Rumi
Editor: Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id