Buleleng (Surau.ID) – Kematian KD, warga Desa Sidatapa, Kabupaten Buleleng, yang diduga menjadi korban pengeroyokan setelah tertangkap mencuri ayam, menyisakan duka mendalam bagi keluarga. Korban yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga meninggalkan seorang istri dan tiga anak, dua di antaranya masih mengenyam pendidikan.
Perbekel Desa Sidatapa, I Made Sutama, mengatakan keluarga korban masih terpukul atas kepergian KD. Saat mengantarkan jenazah ke rumah duka, ia menyaksikan sendiri kesedihan anak-anak korban yang pecah dalam tangisan.
“Karena statusnya sampai menghilangkan nyawa masyarakat yang masih menjadi tulang punggung keluarga, itu menyebabkan perasaan saya sebagai Kepala Desa ikut berduka,” terang Sutama, Senin (27/7/2026).
Menurut Sutama, korban meninggalkan seorang istri serta tiga anak. Anak kedua masih duduk di bangku kelas I SMA, sedangkan anak bungsunya masih bersekolah di kelas I SD. Kepergian KD membuat kondisi ekonomi keluarga kini berada dalam situasi yang sulit.
Kronologi Berujung Kehilangan Nyawa
Sutama menyesalkan tindakan warga yang diduga mengeroyok KD setelah tertangkap basah mencuri ayam di Banjar Dinas Juwuk Legi. Menurutnya, masyarakat seharusnya menyerahkan proses hukum kepada aparat penegak hukum, bukan mengambil tindakan sendiri hingga menyebabkan seseorang kehilangan nyawa.
“Janganlah menghilangkan nyawa orang lain. Kita laporkan ke pihak yang berwajib. Jangan melakukan main hakim sendiri sampai menghilangkan nyawa orang gara-gara ayam. Kalau semua orang punya pemikiran begitu, banyak orang meninggal gara-gara masalah,” ungkapnya.
Ia menambahkan, duka tidak hanya dirasakan keluarga korban, tetapi juga masyarakat Desa Sidatapa yang turut kehilangan salah satu warganya.
Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Buleleng, I Putu Kariaman Putra, membenarkan bahwa KD merupakan pencari nafkah utama keluarganya. Sementara itu, istrinya hanya bekerja sebagai pengrajin anyaman tradisional dengan penghasilan yang tidak menentu.
“Istrinya hanya bekerja serabutan menjadi tukang anyaman tradisional, sehingga sangat kehilangan suaminya sebagai tulang punggungnya. Suaminya sudah tidak ada lagi,” ucap Kariaman saat dikonfirmasi, Senin (27/07/2026).
Untuk membantu keluarga korban, Dinsos P3A telah menyalurkan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) berupa sembako serta Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang dibiayai melalui APBD. Selain itu, pemerintah juga menawarkan kesempatan bagi anak korban yang duduk di bangku SMA untuk melanjutkan pendidikan melalui program Sekolah Rakyat.
“Kalau sudah masuk di Sekolah Rakyat, tentu sudah menjadi tanggung jawab dari pemerintah untuk membiayai kebutuhan dasar, kebutuhan sekolah, dan pemberdayaan ekonomi keluarga. Karena Sekolah Rakyat adalah sekolah asrama yang menjadi tempat sekolah bagi anak-anak yang kurang mampu,” tuturnya.
Pendampingan Psikolog dan Ekonomi
Selain bantuan pendidikan dan kebutuhan dasar, Dinsos P3A juga menyiapkan program pemberdayaan ekonomi bagi istri korban berupa bantuan modal dan peralatan usaha. Program tersebut masih menunggu hasil asesmen dari Kementerian Sosial.
“Sebenarnya program bantuan Kemensos sudah lama karena dia memang sudah masuk ke kriteria, jadi sudah menjadi atensi Pemerintah Pusat. Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), dengan desil yang sudah sesuai,” jelas Kariaman.
Di sisi lain, pemerintah juga memberikan pendampingan psikologis kepada anak-anak korban sejak Senin (27/07/2026) pagi. Pendampingan itu bertujuan membantu mereka melewati trauma akibat kehilangan ayah sekaligus mempersiapkan mereka agar dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
“Kami mendorong keluarga yang ditinggalkan untuk bisa mengikuti program dari Pemerintah Daerah, khususnya Dinas Sosial, agar bisa mengikuti kegiatan di Sekolah Rakyat supaya ke depannya lebih baik. Dari keluarga, kami akan mendorong supaya bisa lebih mandiri dengan program-program Pemerintah Daerah,” kata dia.