Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
26 Desember 2025 | 19:43 WIB
Inspirasi

Inilah Pesan Gus Fayyadl tentang Pentingnya Cinta Al-Qur’an Sejak Dini

IMG 20251227 WA0002
Gus Muhammad Al-Fayyadl saat memberikan sambutan di acara Khotmul Qur’an dan Imtihan (Tartil) ke-IV Metode Ummi di Wilayah Al-Mawaddah. [Sumber: Tangkap layar Youtube Bumi Damai Al Mawaddah].

 

Probolinggo (Surau.ID) – Gus Muhammad Al-Fayyadl menyampaikan pesan mendalam tentang kegembiraan seorang mukmin terhadap Al-Qur’an dalam acara Khotmul Qur’an dan Imtihan (Tartil) ke-IV Metode Ummi. Kegiatan ini berlangsung di Pondok Pesantren Nurul Jadid Wilayah Al-Mawaddah, Paiton, Probolinggo, Jumat (26/12/2025). Gus Fayyadl hadir mewakili pemangku wilayah Al-Mawaddah, ibunda Nyai Hajjah Hamidah Wafi.

Dalam sambutannya, Gus Fayyadl menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber kebahagiaan sejati bagi orang beriman. Ia mengaitkan hal itu dengan doa yang kerap dibaca umat Islam dalam keseharian. Menurutnya, doa tersebut mengandung permohonan agar Allah menjaga tiga nikmat utama manusia.

“Dalam setiap doa kita selalu mengatakan Allahumma matti‘na bi-asma‘ina wa abṣarina wa quwwatina, ya Allah beri kami kegembiraan, kesenangan dengan apa yang kami dengar, dengan apa yang kami lihat, dan dengan kekuatan kami,” ujar Gus Fayyadl.

Penulis buku Filsafat Negasi ini menjelaskan, tiga nikmat itu meliputi pendengaran, penglihatan, dan kekuatan. Ketiganya menjadi sarana utama untuk menikmati dan mengamalkan Al-Qur’an. Karena itu, Al-Qur’an layak disebut sebagai hiburan terbaik bagi orang-orang mukmin.

“Hiburan terbaik bagi orang-orang mukmin adalah Al-Qur’an karena Al-Qur’an diperdengarkan, dilihat, dibaca, dan juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” lanjutnya.

Peringatan Kehilangan Kesenangan pada Al-Qur’an

Gus Fayyadl juga mengingatkan bahaya jika rasa cinta dan kegembiraan terhadap Al-Qur’an dicabut oleh Allah. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai sesuatu yang patut ditakuti bersama, terutama oleh para orang tua dan pendidik.

“Kita jujur tentu sangat takut ketika kegembiraan kita, kesenangan kita, dalam Al-Qur’an terhadap Al-Qur’an ini dicabut oleh Allah,” tuturnya.

Ia kemudian mengutip makna firman Allah yang menjelaskan tentang orang-orang yang mati hatinya dan tertutup pendengarannya. Menurut Gus Fayyadl, ayat tersebut menjadi peringatan keras bagi umat Islam agar menjaga hubungan dengan Al-Qur’an.

“Sesungguhnya engkau tidak akan bisa memperdengarkan Al-Qur’an kepada orang yang mati, maksudnya orang yang mati hatinya, dan engkau tidak akan bisa memperdengarkan panggilan kepada ajaran yang benar kepada orang yang tuli apabila mereka telah pergi berpaling,” katanya.

Gus Fayyadl menegaskan, orang yang hatinya tertutup akan tergolong dalam dua kelompok. Pertama, mereka yang mati hatinya. Kedua, mereka yang tuli pendengarannya terhadap kebenaran. Kedua kondisi itu sama-sama berbahaya bagi masa depan keimanan.

Ia menutup pesannya dengan keprihatinan jika generasi muda mulai menjauh dari Al-Qur’an. Menurutnya, tanda paling nyata dari dicabutnya nikmat tersebut terlihat ketika anak-anak tidak lagi tertarik mendengar dan membaca Al-Qur’an.

“Kalau kesenangan kita pada Al-Qur’an dicabut, putra-putri kita sudah tidak tertarik mendengarkan Al-Qur’an, membaca Al-Qur’an, naudzubillah,” pungkasnya.

Acara Khotmul Qur’an dan Imtihan ini menjadi momentum penting bagi pesantren dan wali santri untuk memperkuat pendidikan Al-Qur’an sejak dini. Pesan Gus Fayyadl menegaskan bahwa menjaga kegembiraan terhadap Al-Qur’an bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga amanah bersama demi keberlanjutan nilai-nilai keislaman.

Penulis: Adi Purnomo Suharno
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id