Probolinggo (Surau.ID) – Keluarga besar Pesantren Nurul Jadid menggelar peringatan Haul Masyayikh dan Haul Pesantren ke-77 di halaman pesantren, Ahad (18/01/26). Momentum tahunan ini tidak hanya menjadi ajang kirim doa bagi para pendahulu, tetapi juga dimaknai sebagai ruang refleksi atas tanggung jawab bersama dalam melanjutkan visi pendidikan dan pengabdian masyarakat yang telah dirintis para masyayikh.
Dalam sambutannya, KH. Moh. Zuhri Zaini menegaskan bahwa terselenggaranya haul tersebut merupakan bentuk izin dan anugerah dari Allah SWT. Ia mengingatkan bahwa rasa syukur kepada Sang Pencipta tidak akan sempurna tanpa disertai penghormatan dan terima kasih kepada para pendahulu yang telah meletakkan dasar perjuangan pesantren.
“Mengenang dan mendoakan para pendahulu memang penting, namun yang tidak kalah krusial adalah menjaga, merawat, dan mengembangkan seluruh warisan yang telah ditinggalkan, baik dalam bentuk fisik maupun nilai-nilai non-fisik,” ungkapnya di hadapan para hadirin.
Secara historis, Kiai Zuhri menjelaskan bahwa perkembangan pesantren hingga mencapai usia ke-77 tahun merupakan buah dari rintisan dan khidmah para masyayikh terdahulu. Dedikasi tersebut mewujud dalam berbagai aspek, mulai dari sistem pendidikan, metode pengajaran, hingga karya-karya tulis yang hingga kini menjadi rujukan keilmuan di lingkungan pesantren.
Dalam nada penuh tawadhu’, ia juga memohon doa dari seluruh lapisan masyarakat, santri, alumni, dan para pengabdi pesantren agar senantiasa diberikan kekuatan serta hidayah dalam mengemban amanah besar tersebut. Baginya, amanah menjaga pesantren bukanlah tugas ringan, melainkan tanggung jawab kolektif yang harus dijalani dengan kesungguhan dan keikhlasan.
Kiai Zuhri menambahkan bahwa fokus utama ke depan adalah memastikan visi dan misi para pendiri tetap hidup dan relevan. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, tidak hanya harus dijaga di lingkungan internal pesantren, tetapi juga diwujudkan dalam pengabdian nyata di tengah masyarakat luas.
Peringatan harlah ke-77 ini pun menjadi ajang silaturahmi bagi seluruh santri dan alumni. Lebih dari itu, momentum tersebut diharapkan menjadi pengingat untuk memposisikan diri sebagai pewaris yang aktif—tidak sekadar menjaga apa yang telah ada, tetapi juga berani berinovasi dalam mengembangkan dakwah dan pendidikan Islam demi kemaslahatan umat.