Sumenep (Surau.ID) – Warga Pulau Gili Iyang, Kabupaten Sumenep, menemukan ikan dan biota laut mati di perairan pesisir utara pulau itu, memasuki hari ketiga tumpahan minyak mentah kelapa sawit atau crude palm oil (CPO), Sabtu (24/1/2026).
Dilansir Kompas.com, sejumlah ikan kecil terlihat membusuk di sela karang yang sebelumnya tertutup gumpalan minyak, sementara kepiting dan kerang juga dilaporkan mati. Temuan ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap dampak pencemaran laut yang semakin meluas.
Kejadian bermula pada Kamis (22/1/2026), ketika kapal tongkang pengangkut CPO dari Kalimantan Selatan menuju Gresik terdampar di sisi utara Pulau Gili Iyang akibat cuaca buruk. Kapal mengalami kebocoran setelah kandas di atas karang sehingga muatan minyak mentah sekitar 3.000 kiloliter tumpah ke laut.
Warga setempat, Fathoni, mengatakan ikan mati mulai ditemukan sejak Jumat (23/1/2026). “Sudah ada ikan-ikan kecil yang kami temukan mati di sekitar tumpahan minyak ini,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa beberapa biota laut lain juga terdampak pencemaran minyak mentah. “Kepiting, kerang, juga ada yang mati. Setahu saya, minyak mentah memang sangat membahayakan bagi laut,” kata Fathoni, mengutip Kompas.com.
Warga berharap pihak terkait segera menindaklanjuti tumpahan minyak ini agar kerusakan ekosistem laut tidak meluas. “Kami berharap ada upaya cepat, membersihkan dan memulihkan laut supaya bisa kembali seperti semula,” tambah Fathoni.
Sementara itu, Kepala Desa Banraas, Pulau Gili Iyang, Mathurrahman, atau H. Paong, mengaku belum menerima laporan resmi mengenai kematian ikan dan biota laut akibat tumpahan minyak. Meski demikian, ia menilai kemungkinan dampak tersebut terjadi cukup tinggi.
“Saya belum mendapatkan laporan langsung soal ikan mati, tetapi secara logika itu sangat mungkin terjadi karena ini sudah pencemaran,” terang H. Paong.
Ia juga memperingatkan potensi kerusakan lebih luas jika minyak mentah mencapai kawasan mangrove atau bakau. “Kalau minyak ini sampai ke area bakau, katanya berbahaya dan bisa merusak ekosistem di sana,” ujarnya.
Hingga saat ini, upaya penanganan darurat terhadap tumpahan minyak masih terus berlangsung, dengan fokus meminimalkan kerusakan lingkungan dan menyelamatkan ekosistem pesisir di Gili Iyang.