Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
02 Mei 2026 | 13:04 WIB
Aksara

Menyalakan Harapan melalui Pendidikan

Ach Jalaluddin Ar Rumi
Ach Jalaluddin Ar-Rumi

 

2 MEI diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Peringatan ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan momentum refleksi. Di tengah kegelapan moral, wawasan, dan etika, pendidikan menjadi penerang jalan. Ia bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan, melainkan jalan panjang untuk menumbuhkan harapan, memperbaiki kualitas hidup, serta membangun masa depan yang lebih baik. Di Indonesia hari ini, pendidikan masih menjadi tumpuan utama bagi jutaan anak bangsa yang menggantungkan cita-citanya pada ruang-ruang kelas, buku pelajaran, dan guru-guru yang membimbing tanpa pamrih.

Harapan itu tumbuh dalam diri setiap anak bangsa, sering kali dari hal-hal sederhana: anak desa yang bermimpi menjadi dokter, anak petani yang ingin menjadi pengusaha, siswa madrasah pelosok yang tekun memperdalam agama dengan harapan menjadi ulama, atau anak-anak dari keluarga sederhana yang bercita-cita mengangkat derajat keluarganya. Di balik semua mimpi itu, pendidikan hadir sebagai jembatan antara realitas dan kemungkinan. Tanpa pendidikan, harapan bisa padam; sebaliknya, dengan pendidikan, harapan akan terus hidup dan menyala, bahkan di tengah keterbatasan.

Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa tantangan pendidikan saat ini sangat kompleks. Ketimpangan akses antara kota dan pelosok, keterbatasan sarana dan prasarana, serta tenaga pendidik yang belum merata baik dari segi kuantitas maupun kualitas, masih menjadi persoalan serius. Belum lagi beban administratif yang kerap membatasi peran guru sebagai pendidik. Di beberapa daerah, masih ada anak-anak yang harus berjalan jauh, bahkan menyeberangi sungai tanpa jembatan untuk sampai ke sekolah, atau belajar di bangunan yang jauh dari kata layak. Dalam kondisi seperti ini, pendidikan seolah menjadi sesuatu yang sulit dijangkau.

Meski demikian, harapan tidak boleh berhenti. Justru di tengah keterbatasan, semangat untuk memperjuangkan pendidikan harus semakin kuat. Sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat menjadi kunci untuk memastikan setiap anak bangsa memperoleh kesempatan yang sama. Pendidikan bukanlah hak istimewa bagi segelintir orang, melainkan hak dasar setiap warga negara, sebagaimana amanat Undang-Undang Dasar 1945.

Di sisi lain, pendidikan juga harus mampu menjawab tantangan zaman. Perkembangan teknologi dan informasi yang begitu pesat menuntut transformasi sistem pembelajaran. Metode konvensional saja tidak lagi cukup. Generasi muda membutuhkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, inovasi, kemampuan beradaptasi, serta literasi digital. Pendidikan harus menjadi ruang yang tidak hanya mengajarkan apa yang dipelajari, tetapi juga bagaimana cara belajar.

Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Ia tidak hanya berbicara tentang pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, akhlak, etika, dan nilai-nilai kemanusiaan. Seorang pendidik bukan hanya penyampai materi, tetapi juga teladan. Sekolah bukan hanya tempat belajar ilmu, tetapi juga ruang untuk memahami kehidupan dan membangun interaksi sosial.

Menyalakan harapan melalui pendidikan berarti memastikan bahwa proses pembelajaran memberi makna bagi generasi muda—membuat mereka merasa dihargai, didengar, dan diberi kesempatan yang sama untuk berkembang. Dari sana, tumbuh rasa percaya diri dan keyakinan bahwa masa depan dapat diubah melalui ilmu dan usaha.

Momentum Hari Pendidikan Nasional ini hendaknya menjadi pengingat sekaligus ajang muhasabah bagi kita semua untuk kembali memahami makna pendidikan. Ia harus menjadi api semangat dalam memperkuat komitmen bersama memajukan pendidikan di negeri ini. Pada akhirnya, kita menyadari bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang—hasilnya tidak instan, tetapi dari sanalah peradaban dibangun. Jika kita ingin melihat Indonesia yang maju, adil, dan bermartabat, maka menyalakan harapan melalui pendidikan bukan lagi pilihan, melainkan sebuah kewajiban.

_____________________________

*) Tenaga Pengajar di Pondok Pesantren Nurul Jadid dan Pondok Pesantren Nurul Qodim

Penulis: Ach Jalaluddin Ar Rumi
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id