Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
16 Februari 2026 | 21:22 WIB
Aksara

Zuhud Modern: Melawan Banjir Dopamin dan Merebut Kedaulatan Diri

IMG 20260216 WA0025
Penulis: Sevilla Dian Mumtaz*

 

PERNAHKAH kalian merasa lelah luar biasa, padahal sepanjang hari hanya diam memegang ponsel? Jika iya, kalian tidak sendiri. Di era sekarang, “kemiskinan” tidak lagi hanya soal harta, tetapi juga soal hilangnya kendali atas perhatian kita sendiri.

Dahulu, zuhud sering disalahpahami sebagai gaya hidup asketik ekstrem: mengasingkan diri di pegunungan, berpakaian lusuh, atau menolak harta benda. Di abad ke-21, makna itu perlu diperbarui. Zuhud kini bukan pelarian dari realitas material, melainkan reklamasi kedaulatan kognitif di tengah kepungan algoritma dan tirani dopamin.

Secara neurosains, musuh terbesar kita bernama dopamin. Banyak orang mengira dopamin adalah hormon kebahagiaan, padahal sebenarnya ia berkaitan dengan “pencarian”. Otak aktif bukan saat memperoleh sesuatu, melainkan saat mengharapkannya, dan ini yang dieksploitasi oleh industri digital.

Setiap scrolling media sosial menjerat kita dalam dopamine loop. Notifikasi merah, denting pesan, atau jumlah like adalah gratifikasi instan yang memaksa otak terus mengejar “umpan” berikutnya. Psikolog Barry Schwartz pernah mengingatkan tentang The Paradox of Choice: terlalu banyak pilihan justru memunculkan kebingungan dan ketidakpuasan. Akibatnya, kita terjebak dalam konsumerisme digital yang melelahkan: tubuh diam, tapi pikiran diperas habis oleh validasi semu.

Zuhud sebagai Self-Mastery

Dalam psikologi modern, zuhud dapat diartikan sebagai kemampuan menunda kesenangan (delayed gratification). Ini kemampuan berkata “tidak” pada dorongan impulsif demi ketenangan jangka panjang. Jika konsumerisme menjadikan kita budak tren, zuhud adalah pemberontakan intelektual paling radikal.

Zuhud modern adalah puncak regulasi diri (self-regulation). Bukan sekadar menahan diri pasif, tapi proses sadar memilih nilai-nilai bermakna di atas dorongan yang merugikan. Orang yang zuhud memiliki “filter” mental: tidak semua informasi dikonsumsi, tidak semua perdebatan diikuti, dan tidak semua diskon diburu. Di sini, zuhud bersinggungan dengan minimalisme mental: bukan soal barang yang dimiliki, tapi ruang kosong dalam jiwa untuk berpikir jernih tanpa kebisingan eksternal.

Bagaimana mempraktikkan zuhud modern di tengah gempuran iklan dan konten viral? Kuncinya adalah kurasi. Jadilah editor hidupmu sendiri. Cobalah digital detox atau puasa validasi: tidak mengunggah hanya demi angka dan komentar. Rasakan nikmatnya momen tanpa kamera. Alihkan dari “reaksi” menjadi “aksi”. Seringkali kita bereaksi terhadap apa yang muncul di feed, bukan melakukan apa yang benar-benar dibutuhkan.

Zuhud modern mengajarkan meletakkan dunia (termasuk ponsel) di tangan, bukan di hati. Saat keinginan untuk selalu tampak luar biasa di mata orang lain reda, kita kembali memegang kendali atas hidup sendiri.

Tujuan utama zuhud adalah tumaninah: ketenangan batin yang konsisten. Kebahagiaan dari belanja online atau pujian dunia maya cepat hilang. Sebaliknya, ketenangan dari kemampuan mengendalikan diri bersifat permanen. Zuhud adalah jalan pulang menuju diri sendiri. Ia seni merasa cukup di tengah dunia yang selalu bilang “kamu tidak cukup”.

Dengan mengatur konsumsi dan memperkuat refleksi, kita tak lagi objek algoritma, tapi subjek penuh kendali. Kemenangan terbesar manusia modern bukan pada seberapa banyak ia memiliki, tapi seberapa banyak ia mampu lepaskan sambil tetap utuh.

___________________________________

*) Mahasiswa Psikologi UNESA yang menaruh minat pada isu kesehatan mental dan integrasi nilai-nilai spiritual dalam kehidupan modern.

Penulis: Sevilla Dian Mumtaz
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id