Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
24 Mei 2026 | 20:38 WIB
Nasional

Diplomasi RI Berbuah Hasil, 9 WNI Korban Penculikan Israel Akhirnya Kembali ke Indonesia

9 WNI korban penculikan Israel.
9 WNI korban penculikan Israel. {Foto: screenshot instagram Kemlu RI}

 

JAKARTA (Surau.ID) — Sembilan warga negara Indonesia (WNI) anggota Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) yang sempat ditangkap pasukan Israel saat menjalankan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) ke Gaza, Palestina, akhirnya tiba di Indonesia pada Minggu (24/5) sore.

Mereka sebelumnya menjalani proses pembebasan dan transit di Turki sebelum kembali ke Tanah Air. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan seluruh WNI dalam kondisi telah melalui pemeriksaan kesehatan, visum, serta pendataan testimoni sebelum dipulangkan.

Kesembilan WNI tersebut terdiri dari jurnalis Republika Bambang Noroyono dan Thoudy Badai, jurnalis Tempo TV Andre Prasetyo Nugroho, jurnalis sekaligus tim media GPCI Rahendro Herubowo, Andi Angga Prasadewa dari Rumah Zakat, Herman Budianto Sudarno dan Ronggo Wirosanu dari Dompet Dhuafa, serta Hendro Prasetyo dan Asad Aras Muhammad dari GPCI.

Duta Besar RI untuk Turki, Rizal Achmad Purnomo, menyampaikan bahwa para WNI lebih dulu menjalani pemeriksaan medis dan dokumentasi sebelum dipulangkan ke Indonesia.

Kronologi Penangkapan di Perairan Gaza

Pasukan Israel menangkap para aktivis dan relawan GSF secara bertahap sejak Senin (18/5) saat mereka berlayar menembus blokade Gaza melalui jalur laut internasional.

Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) menjadi bagian dari delegasi nasional Indonesia yang bergabung dalam misi kemanusiaan GSF. Dalam operasi tersebut, tentara Israel mencegat sedikitnya sepuluh kapal, termasuk Amanda, Barbaros, Josef, dan Blue Toys.

Pada Rabu (20/5), Kemlu RI memastikan seluruh sembilan WNI yang mengikuti misi tersebut ikut ditangkap. Pasukan Israel kemudian membawa para relawan ke Pelabuhan Ashdod, Israel Selatan.

Berdasarkan data GPCI, salah satu relawan Indonesia, Andi Angga dari Rumah Zakat, berada di kapal Josef saat penangkapan terjadi.

Setelah bebas, sejumlah WNI mengaku mengalami tindakan kekerasan selama penahanan.

Rahendro Herubowo, eks jurnalis iNews yang tergabung dalam tim media GPCI, mengaku mengalami penyiksaan fisik selama ditahan.

“Saya mengalami beberapa kekerasan. Ditendang, mungkin 3-4 kali di bagian depan. (Bagian) belakang juga saya diinjak. Dan terakhir disetrum,” kata Heru, sapaannya, saat ditanya aktivis kemanusiaan Chiki Fawzi dalam video yang diunggah di akun @chikifawzi.

Kesaksian serupa disampaikan Andre Prasetyo Nugroho, jurnalis Tempo TV. Ia mengaku mengalami penganiayaan saat ditahan tentara Israel, mulai dari dipaksa menunduk dengan tangan terikat ke belakang hingga disetrum. Andre menyebut kekerasan semakin parah saat para relawan tiba di Kota Ashdod, Israel.

“Pas sudah sampai Ashdod, di tanah, wah, itu paling keji. Enggak bisa saya maafin. Kepala saya mungkin cekung. Saya tahan pakai kepala, pakai jidat. Tangan saya diikat ke belakang, diikat terlalu kencang, akhirnya peredaran darah enggak jalan dan itu bikin saya mau pingsan. Ini (menunjukkan pergelangan tangan, red) ditarik-tarik,” tuturnya.

Diplomasi RI Buka Jalan

Pemerintah Indonesia bergerak cepat setelah menerima kabar penangkapan para WNI.

Kemlu RI bersama sejumlah negara seperti Turki dan Spanyol mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam serangan militer Israel terhadap GSF serta menuntut agar akses bantuan kemanusiaan ke Gaza tetap dibuka.

Juru bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, menegaskan pemerintah langsung menyiapkan langkah diplomatik dan skenario perlindungan.

“Sekaligus menyiapkan langkah kontingensi, termasuk fasilitasi perlindungan dan percepatan proses pemulangan apabila diperlukan,” kata juru bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang, mengutip CNNIndonesia.

Kemlu RI juga terus menekan Israel agar membebaskan seluruh kapal dan relawan yang ditahan.

“Tentunya kita akan terus mengoptimalkan seluruh jalur komunikasi diplomatik untuk mengupayakan pembebasan para WNI, termasuk dengan memperkuat koordinasi bersama negara-negara yang warganya juga tergabung dalam GSF dan terdampak penahanan tersebut,” ucap Yvonne.

Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengakui Indonesia menghadapi keterbatasan akses langsung karena tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Namun, pemerintah memanfaatkan jalur komunikasi melalui negara ketiga seperti Turki, Yordania, dan Mesir.

“Jadi kita sudah melakukan komunikasi dengan teman-teman di Kementerian Luar Negeri di Jordan dan Turki untuk memastikan kondisi dari rekan-rekan kita yang di-intercept dan ditahan oleh Israel,” kata Sugiono di kompleks parlemen.

Duta Besar RI untuk Turki, Achmad Rizal Purnama, kemudian memperkuat lobi diplomatik dengan pemerintah Turki.

“Atas instruksi Menteri Luar Negeri, Dubes RI melakukan komunikasi dan koordinasi dengan otoritas di Turki dalam rangka pembebasan WNI dimaksud. Warga negara Turki juga menjadi bagian dari GSF yang juga ditahan Israel,” ucap Rizal.

Upaya diplomatik itu akhirnya membuahkan hasil. Pada Kamis (21/5) malam, Menlu RI Sugiono mengonfirmasi sembilan WNI telah dibebaskan dan meninggalkan wilayah Israel menuju Istanbul, Turki.

“Pemerintah Indonesia dengan penuh rasa syukur menyampaikan bahwa sembilan WNI yang ditangkap oleh militer Israel dalam pencegatan kapal dan penangkapan relawan yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla 2.0 saat ini dalam perjalanan meninggalkan wilayah Israel menuju Istanbul, Turki, dan akan segera melanjutkan perjalanan kembali ke Tanah Air,” kata Sugiono.

Penulis: Adi Purnomo Suharno
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id