JAKARTA (Surau.ID) – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan stok energi nasional tetap aman di tengah gejolak global akibat konflik di Timur Tengah. Pernyataan itu disampaikan saat melakukan inspeksi mendadak di Jawa Tengah yang dipantau dari Jakarta, Kamis (26/03/2026).
“Sekalipun dalam kondisi yang memang hampir semua dunia kena, tetapi kita bersyukur kepada Allah, hari ini BBM di negara kita tercinta, baik bensin, solar, maupun LPG, terpenuhi dengan baik,” ujar Bahlil.
Ia menjelaskan cadangan minyak nasional saat ini berada pada kisaran 21 hingga 28 hari, sesuai standar minimal yang ditetapkan pemerintah. Menurut dia, angka tersebut tidak berarti pasokan akan habis dalam waktu tersebut karena distribusi dan pengisian ulang terus berjalan.
Pemerintah, kata Bahlil, juga mengoptimalkan operasional kilang minyak dalam negeri untuk menjaga kesinambungan pasokan energi.
Bahlil mengungkapkan pemerintah telah mengalihkan sebagian sumber impor minyak mentah guna mengantisipasi gangguan distribusi global, termasuk dari kawasan Teluk.
“Kita tahu bahwa 20 persen dari crude (minyak mentah) kita itu diambil dari Selat Hormuz. Sekarang, kami sudah ganti ke tempat lain dan pasokannya insyaallah sudah mulai membaik,” ujarnya.
Langkah ini diambil seiring meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada rantai pasok energi global.
Sebelumnya, Filipina menjadi negara pertama yang menetapkan darurat energi nasional pada Selasa (24/03/2026). Presiden Ferdinand Marcos Jr. mengeluarkan kebijakan tersebut untuk merespons gangguan pasokan dan lonjakan harga energi.
Filipina diketahui mengimpor sekitar 26 persen kebutuhan energinya dari kawasan Timur Tengah, dengan nilai belanja mencapai 16 miliar dolar AS pada 2024.
Ketegangan di kawasan Teluk Persia meningkat sejak serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Konflik tersebut memicu balasan berupa serangan drone dan rudal ke sejumlah negara di kawasan.
Situasi semakin memanas setelah Iran mengambil kendali Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia yang menjadi tumpuan pasokan energi bagi banyak negara, termasuk di Asia.