JAKARTA (Surau.ID) — Presiden Prabowo Subianto meminta pemerintah menjaga harga ekspor beras agar tidak merugikan petani dalam negeri. Ia secara langsung mengingatkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Perum Bulog untuk tidak menjual beras Indonesia dengan harga terlalu murah kepada negara lain.
Menurutnya, Indonesia tetap harus membantu negara lain yang membutuhkan pasokan pangan, namun pemerintah wajib melindungi kepentingan petani nasional.
“Kalau mereka butuh kita harus bantu, kita jual kepada mereka, tapi harganya yang okelah, jangan petani kita korban, iya kan? Harga harus minimal, minimal untung dikit lah, Pak Amran ya,” kata Prabowo, dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden, ketika memberi arahan pada saat peresmian operasional Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih di Nganjuk, Sabtu (16/5/2026).
Prabowo kemudian memanggil Direktur Utama Perum Bulog, Letjen (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani. Ia meminta Bulog menjaga keseimbangan harga beras di tengah situasi global yang belum stabil.
“Dirut Bulog mana? Jangan jual terlalu murah ya. Jangan ngetok, tapi jangan jual terlalu murah. Ingat, krisis bisa lama ini,” kata Prabowo.
Krisis Global dan Ekspor Indonesia
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menilai Indonesia kini berada dalam posisi strategis di sektor pangan global. Ia mengungkapkan banyak negara mulai meminta pasokan beras dari Indonesia di tengah ketidakpastian dunia.
“Sekarang banyak negara minta beli beras dari kita. Tetangga-tetangga kita, mereka-mereka yang lebih hebat daripada kita, yang menganggap diri mereka lebih hebat daripada kita, kan begitu? Tapi sekarang harus datang ke Indonesia minta, boleh enggak kita beli beras?” tutur Prabowo.
Menurut Prabowo, meningkatnya permintaan ekspor beras terjadi karena sejumlah negara memilih menahan penjualan beras mereka di tengah dinamika global yang tidak menentu.
Selain meresmikan koperasi desa, Prabowo juga meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk. Dalam sambutannya, ia turut menyoroti kemampuan Indonesia mengekspor pupuk ke berbagai negara setelah gejolak dunia akibat penutupan Selat Hormuz.
Prabowo menjelaskan bahwa jalur Selat Hormuz sangat memengaruhi distribusi energi dan pupuk dunia.
“20 persen BBM dunia lewat Selat Hormuz, berarti pupuk terpengaruh, karena banyak pupuk berasal dari minyak dan gas. Pupuk dari urea ya, urea sangat dibutuhkan,” ujar Prabowo.
Ia mengaku menerima laporan dari Menteri Pertanian bahwa sejumlah negara meminta pasokan pupuk dari Indonesia. Mulai dari Australia, Filipina, India, Bangladesh, hingga Brasil. Bahkan, Indonesia telah menjual sekitar 500 ribu ton urea ke Australia sebagai bentuk bantuan di tengah situasi global yang tidak menentu.
“Kita tidak euforia, kita tidak sombong, tapi kita berada di pihak yang bisa memberi bantuan,” terang Probowo.