Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
16 Januari 2026 | 16:02 WIB
Aksara

Isra Mi’raj di Tengah Kelelahan Zaman

Ach Jalaluddin Ar Rumi
Ach Jalaluddin Ar-Rumi

 


Penulis Ach Jalaluddin Ar Rumi*

HARI INI, di berbagai media, banyak beredar ucapan selamat memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Peringatan ini merupakan agenda tahunan hari besar Islam yang jatuh pada 27 Rajab tahun ke-10 kenabian. Peristiwa Isra Mi’raj bukan sekadar kisah perjalanan luar biasa yang menembus ruang dan waktu, tetapi mengandung makna mendalam, terutama jika dibaca dalam konteks kehidupan masa kini yang dilanda berbagai krisis.

Di tengah kegelisahan sosial, tekanan ekonomi, krisis moral, serta kelelahan batin yang kian menguat, Isra Mi’raj menghadirkan pesan tentang ketahanan iman. Ia mengajarkan kemampuan manusia, khususnya umat Islam, untuk tetap tegak di tengah ketidakpastian hidup dan problematika yang silih berganti.

Isra Mi’raj terjadi pada masa paling berat dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW, yang dikenal sebagai ‘am al-huzn (tahun kesedihan). Dalam waktu berdekatan, Nabi kehilangan istri tercinta Khadijah dan pamannya Abu Thalib, dua sosok penopang utama dakwahnya. Penolakan dan perlakuan kasar penduduk Thaif semakin memperdalam luka batin beliau.

Di tengah pergolakan tersebut, Allah SWT menganugerahkan mukjizat dengan memperjalankan Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu dimi’rajkan menembus langit. Sebuah perjalanan spiritual yang belum pernah dialami manusia sebelumnya. Peristiwa ini menyampaikan pesan mendalam: di balik tekanan tergelap, selalu ada penguat iman yang Allah siapkan.

Pesan ini sangat relevan dengan kehidupan masa kini. Zaman teknologi yang serba cepat dan mudah justru menyimpan krisis tersembunyi. Banyak orang tampak baik-baik saja dari luar, namun rapuh di dalam. Krisis kesehatan mental, depresi, hilangnya makna hidup, tekanan ekonomi, kecemasan finansial, dan beban sosial menjadi fenomena yang kian umum.

Media sosial yang semula menjadi sarana konektivitas, kini sering berubah menjadi alat validasi diri dan perbandingan hidup. Standar semu tanpa filter ini justru menambah tekanan psikologis dan memperdalam kegelisahan batin.

Iman di Tengah Kerapuhan Manusia Modern

Dalam situasi demikian, iman kerap diuji. Tidak sedikit orang yang merasa ibadah hanya rutinitas kosong, bahkan ditinggalkan karena dianggap tak lagi relevan dengan tuntutan zaman. Isra Mi’raj hadir untuk membantah cara pandang tersebut. Justru di tengah krisis, iman menjadi fondasi utama ketahanan hidup, karena iman tidak tumbuh di ruang nyaman, melainkan menguat dalam ujian.

Salah satu hadiah utama dari peristiwa Isra Mi’raj adalah shalat. Ini menegaskan bahwa ketenangan sejati bukan diperoleh dengan melarikan diri dari realitas dunia, melainkan melalui keterhubungan spiritual yang mendalam dengan Allah SWT.

Dalam perspektif Isra Mi’raj, shalat bukan sekadar rutinitas, melainkan sarana menjaga kewarasan jiwa. Shalat adalah mi’raj harian manusia, momen berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Melalui shalat, manusia menyadari keterbatasan, mengakui kelemahan, dan menyerahkan beban hidup kepada Allah SWT. Dari sinilah lahir iman yang aktif—iman yang memberi energi untuk bertahan dan melangkah.

Spirit Isra Mi’raj juga tidak berhenti pada dimensi personal, tetapi merambah ranah sosial-keberagamaan. Masjidil Aqsha sebagai ikon Isra Mi’raj melambangkan keterhubungan umat, sejarah kenabian, dan tanggung jawab kolektif terhadap keadilan. Iman yang kuat tidak cukup berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi harus melahirkan kepedulian sosial.

Di tengah ketimpangan sosial, ekonomi, dan moral, iman diuji bukan hanya dari rajinnya ibadah, melainkan sejauh mana kepedulian terhadap sesama. Isra Mi’raj mengajarkan bahwa hubungan vertikal dengan Tuhan harus berdampak horizontal kepada manusia, melahirkan empati, kejujuran, dan keberpihakan pada keadilan.

Lebih jauh, Isra Mi’raj mengajarkan optimisme di tengah keputusasaan. Peristiwa agung itu terjadi saat Nabi berada di titik terendah kehidupannya. Ini menjadi pesan penting, khususnya bagi generasi muda, bahwa masa sulit bukanlah akhir perjalanan. Iman harus dijaga agar mampu bangkit dan menemukan jalan.

Karena itu, Isra Mi’raj tidak seharusnya berhenti pada seremoni tahunan. Ia mesti menjadi ruang refleksi dan muhasabah kolektif: sejauh mana iman kita bertahan di tengah krisis? Apakah shalat telah menjadi sumber ketenangan, atau sekadar rutinitas? Apakah kesalehan kita telah melahirkan kepedulian sosial?

Pada akhirnya, Isra Mi’raj mengajarkan bahwa ketahanan iman bukan berarti bebas dari masalah, melainkan kemampuan menghadapi masalah dengan jiwa yang tenang dan hati yang teguh. Ia menjadi spirit untuk terus berjalan meski dunia terasa berat, dan tetap berharap meski keadaan belum ideal. Di tengah krisis zaman, Isra Mi’raj mengingatkan bahwa langit iman harus dijaga agar bumi kehidupan tidak runtuh.

_____________________________

*) Tenaga Pengajar di Pondok Pesantren Nurul Jadid dan Pondok Pesantren Nurul Qodim, Founder Aksara Center.

Penulis: Ach Jalaluddin Ar Rumi
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id