JAKARTA (Surau.ID) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan menggelar BRIN Goes To Industry 5 (BGTI 5): Hilirisasi Riset dan Inovasi Sektor Pertambangan di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie Lantai 3, Jakarta. Melalui forum ini, BRIN ingin memperkuat kolaborasi dengan industri pertambangan dan mineral agar hasil riset dapat diimplementasikan, dihilirisasi, serta memberikan nilai tambah bagi industri dan masyarakat.
Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan bahwa lembaganya terus mendorong pemanfaatan hasil riset agar tidak berhenti di laboratorium, tetapi mampu menjawab kebutuhan dunia usaha.
“BRIN berkomitmen menghasilkan riset dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri. Oleh karena itu, kami berharap dunia industri dapat memanfaatkan, mengadopsi, dan menghilirisasi teknologi hasil riset BRIN sehingga memberikan nilai tambah bagi pertumbuhan industri nasional,” kata Kepala BRIN, Arif Satria.
Forum BGTI 5 juga menjadi wadah bagi BRIN untuk mempertemukan peneliti dengan pelaku industri, sekaligus memperluas peluang kerja sama riset, pengembangan teknologi, hingga komersialisasi inovasi di sektor pertambangan.
Percepat Hilirisasi Teknologi Pertambangan
Melalui BGTI 5, BRIN mengarahkan kolaborasi riset pada sejumlah isu strategis di sektor pertambangan. Fokus tersebut meliputi percepatan hilirisasi produk pertambangan, dekarbonisasi industri, penerapan praktik pertambangan berkelanjutan, serta pemanfaatan Sisa Hasil Pengolahan (SHP) dan Sisa Hasil Pengolahan dan Pemurnian (SHPP).
BRIN juga mendorong pengembangan teknologi yang mampu mengolah residu, slag, dan tailing menjadi produk bernilai tambah. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi industri sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas pertambangan.
Selain mempercepat adopsi teknologi, BRIN menawarkan dukungan sejak tahap identifikasi kebutuhan penelitian dan pengembangan (research and development/R&D), penguatan kolaborasi co-development, hingga penyusunan skema kemitraan inovasi yang berkelanjutan.
BGTI 5 juga mendukung agenda nasional untuk melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi guna meningkatkan nilai tambah sumber daya di dalam negeri.
Dalam forum tersebut, BRIN akan memfasilitasi pembahasan berbagai skema kerja sama, mulai dari riset bersama, co-development, pengujian produk inovasi, hingga lisensi pemanfaatan teknologi. Selain itu, peserta juga dapat mengeksplorasi peluang pendanaan dari BRIN, investasi industri, maupun sumber pendanaan eksternal lainnya.
Melalui pendekatan tersebut, BRIN berharap kolaborasi riset tidak hanya berhenti pada tahap pengembangan teknologi, tetapi juga berlanjut hingga proses implementasi dan komersialisasi.
Temu Bisnis Perkuat Kolaborasi
Rangkaian kegiatan BGTI 5 diawali dengan pembukaan dan penyampaian keynote speech, kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan naskah kerja sama serta sesi foto bersama.
Panitia juga menghadirkan sesi talkshow yang mempertemukan para peneliti BRIN dengan pelaku industri untuk membahas berbagai tantangan dan peluang hilirisasi riset. Setelah itu, peserta akan mengikuti sesi temu bisnis yang terbagi dalam empat tema utama, yakni hilirisasi produk pertambangan, dekarbonisasi industri pertambangan, praktik pertambangan ramah lingkungan, serta peningkatan nilai tambah SHP dan SHPP.
Sebagai penutup, BRIN akan memfasilitasi one-on-one meeting antara calon mitra dan peneliti guna membahas peluang kerja sama secara lebih spesifik sesuai kebutuhan masing-masing pihak.
“BGTI 5 diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat sinergi riset–industri dalam mendorong pemanfaatan inovasi nasional secara aplikatif dan berdaya saing, sekaligus membuka peluang kerja sama baru yang terukur untuk percepatan hilirisasi riset dan inovasi di sektor pertambangan,” ujar Arif.