Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
20 September 2026 | 17:59 WIB
Nasional

BRIN Sulap Lahan Bekas Tambang Jadi Sumber Pangan dan Ekonomi Baru

Brin
Kegiatan BRIN Goes To Industry 7 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City. {Foto: BRIN}

 

Tangerang Selatan (Surau.ID) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan lahan pascatambang menjadi kawasan produktif melalui konsep circular bioeconomy. Lahan bekas tambang tidak hanya direklamasi untuk memulihkan kondisi lingkungan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi kawasan peternakan, perikanan, hortikultura, tanaman pangan hingga agrowisata.

Menurut Sindu Akhadiarto, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Peternakan BRIN, sektor peternakan dapat memainkan peran penting dalam proses pemulihan ekosistem lahan bekas tambang. Aktivitas peternakan tidak berhenti pada produksi pangan, tetapi dapat menjadi bagian dari sistem biologis yang membantu mengembalikan fungsi ekologis lahan.

“Peternakan tidak hanya menghasilkan daging, telur, dan susu, tetapi juga menjadi mesin biologis yang mempercepat pemulihan fungsi ekosistem dan bekas tambang,” ujar Sindu dalam kegiatan BRIN Goes To Industry 7 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City.

Potensi pemanfaatan tersebut cukup besar. Sindu menyebut kawasan pertambangan batu bara di Kalimantan Timur mencapai lebih dari 1,5 juta hektare atau sekitar 40 persen dari total luasan pertambangan batu bara nasional.

Besarnya luasan tersebut membuka peluang pengembangan kawasan pascatambang sebagai pusat kegiatan ekonomi baru berbasis riset dan teknologi.

Void Bekas Tambang Bisa Dikembangkan untuk Perikanan

Salah satu bagian penting dalam model yang dikembangkan BRIN adalah pemanfaatan void, yakni lubang bekas tambang yang telah terisi air. Dalam kawasan peternakan terpadu, void dapat dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan, sedangkan area lahan lainnya digunakan untuk peternakan, hortikultura, maupun tanaman pangan.

Menurut Sindu, pengalaman pemanfaatan danau bekas tambang menunjukkan potensi yang cukup menjanjikan. Setelah melalui pemeliharaan selama hampir lima tahun, void dapat menghasilkan komoditas perikanan seperti udang galah dan ikan nila yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Sementara itu, pemanfaatan lahan daratan dapat menyesuaikan karakteristik tanah pascatambang. BRIN mencatat sejumlah tanaman hortikultura telah dikembangkan di kawasan Green Belt PT Semen Indonesia, Pabrik Tuban, Jawa Timur, antara lain jeruk, anggur, dan kelengkeng.

Untuk tanaman pangan, BRIN juga memiliki varietas unggul yang dapat dikembangkan pada kondisi lahan tertentu. Salah satunya varietas unggul baru padi yang memiliki kemampuan beradaptasi pada lahan masam.

Konsep yang ditawarkan BRIN tidak hanya berorientasi pada produksi. Kawasan tersebut juga dapat dikembangkan sebagai tempat penelitian, pendidikan, dan agrowisata dengan pendekatan Agro Techno Park. Dengan dukungan teknologi, seluruh kegiatan dapat terhubung dari sektor hulu hingga hilir.

Kolaborasi BRIN dan Industri

Upaya mengembangkan model tersebut mulai diperkuat melalui kerja sama dengan sektor industri. Pada 2026, BRIN bekerja sama dengan PT Bramasta Sakti untuk melakukan reklamasi lahan bekas tambang melalui pendekatan revegetasi dan fitoremediasi. Kegiatan tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan peternakan ruminansia di Kalimantan Timur.

Direktur PT Bramasta Sakti, Wiwin Suhartanto, mengatakan kerja sama tersebut telah memiliki dasar kelembagaan melalui nota kesepahaman dengan Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN. Kerja sama kemudian ditindaklanjuti melalui Perjanjian Kerja Sama dengan Pusat Riset Peternakan.

Kolaborasi tersebut juga terbuka untuk dikembangkan bersama pusat riset lain, termasuk Pusat Riset Perikanan.

“Potensi lahan yang ada di kami dan kemampuan riset dari BRIN ini dapat kita kolaborasikan sehingga nantinya bisa muncul inovasi-inovasi baru,” ujar Wiwin.

Tim BRIN sebelumnya telah mengunjungi lokasi perusahaan pada Agustus 2026 untuk melihat kondisi lahan sekaligus mengidentifikasi potensi yang dapat dikembangkan menjadi objek penelitian.

Dalam kunjungan tersebut, tim menemukan dua void yang telah terisi air dan berpotensi menjadi lokasi pengembangan riset perikanan. Tim juga mengambil sampel tanah dari sejumlah titik untuk mengetahui karakteristik serta kandungannya sebagai dasar penelitian lanjutan.

Melalui model tersebut, reklamasi lahan pascatambang diarahkan tidak sekadar mengembalikan fungsi lahan, tetapi juga menciptakan kawasan produktif berbasis riset. Integrasi peternakan, perikanan, hortikultura, tanaman pangan, edukasi, dan agrowisata diharapkan dapat membuka sumber pangan sekaligus membangun aktivitas ekonomi baru dengan tetap memperhatikan pemulihan lingkungan.

Penulis: Adi Purnomo Suharno
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id