Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
07 Maret 2026 | 05:21 WIB
Inspirasi

Cerita Kiai Zuhri tentang Gus Dur: Terima Kasih Itu Diterima Lalu Dikasih

Kiai Zuhrii
KH Moh Zuhri Zaini dan KH Abdurrahman Wahid (Surau.ID/Berbagai Sumber).

 

PROBOLINGGO (Surau.ID) – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Moh. Zuhri Zaini, membagikan kisah tentang Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat mengisi pengajian kitab Nashoihud Diniyah bersama para santri selama bulan Ramadan.

Dalam pengajiannya, Kiai Zuhri menekankan pentingnya menanamkan sikap tidak bergantung kepada sesama manusia. Menurutnya, seorang Muslim hendaknya menggantungkan harapan hanya kepada Allah SWT.

“Jadi jangan berharap kepada sesama. Berharaplah kepada Allah,” ujarnya.

Meski demikian, Kiai Zuhri menegaskan bahwa ajaran Islam tetap mendorong umatnya untuk saling menolong dalam kebaikan. Ketika seseorang membutuhkan bantuan, maka diperbolehkan untuk meminta pertolongan, dan ketika orang lain membutuhkan, hendaknya kita membantu.

“Soal tolong-menolong ya harus. Di waktu kita butuh bantuan kita minta tolong, dan ketika orang lain membutuhkan kita menolong,” jelasnya.

Ia kemudian mengutip firman Allah SWT, wa ta‘āwanū ‘alal birri wat taqwā, yang memerintahkan umat Islam untuk saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan.

Namun demikian, Kiai Zuhri mengingatkan agar seseorang tidak hanya ingin menerima bantuan, tetapi juga harus memiliki kesediaan untuk memberi.

“Harus mau memberi. Jangan hanya ingin menerima,” katanya.

Kisah Keteladanan Gus Dur

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Zuhri kemudian menceritakan sebuah kisah tentang Gus Dur yang menurutnya mencerminkan sikap tidak mementingkan diri sendiri.

Menurutnya, kehidupan Gus Dur dikenal sederhana dan tidak berorientasi pada harta.

Suatu ketika, ada seseorang datang memberikan hadiah uang dalam jumlah besar kepada Gus Dur. Pada saat yang sama, ada orang lain yang sedang meminta bantuan kepadanya.

“Suatu ketika ada orang datang memberi hadiah uang banyak kepada Gus Dur. Saat itu juga ada orang yang meminta bantuan kepada beliau,” tuturnya.

Tanpa membuka atau menghitung jumlah uang tersebut, Gus Dur langsung menyerahkannya kepada orang yang membutuhkan bantuan itu.

“Langsung uang itu tidak dibuka, tidak dihitung, diberikan kepada orang yang meminta bantuan tadi,” kata Kiai Zuhri.

Ketika seseorang bertanya mengapa uang tersebut diberikan seluruhnya, Gus Dur menjawab dengan sederhana.

“Kata Gus Dur, ‘Ya namanya terima kasih. Terima lalu dikasih.’ Kita menerima lalu kita kasih kepada orang lain,” ungkapnya menirukan jawaban Gus Dur.

Kiai Zuhri menilai, sikap Gus Dur tersebut lahir dari kesadaran bahwa harta dan dunia bukanlah penentu utama kebahagiaan seseorang. Yang lebih penting adalah hati yang dipenuhi rasa syukur dan kesabaran.

Ia juga mengingatkan bahwa menggantungkan harapan kepada manusia justru menunjukkan bentuk kefakiran yang nyata.

“Sekalipun seseorang punya harta banyak, kalau masih berharap kepada manusia sebenarnya dia masih fakir. Karena masih bergantung kepada selain Allah,” jelasnya.

Menurutnya, orang yang terlalu bergantung kepada manusia pada akhirnya akan sering mengalami kekecewaan karena harapannya tidak selalu terpenuhi.

“Orang yang berharap kepada selain Allah pasti akan kecewa dan rugi. Karena harapannya sering tidak tercapai, atau kalaupun tercapai mungkin hanya satu dua kali saja,” pungkasnya.

Pengajian ini disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Pondok Pesantren Nurul Jadid pada Rabu (4/3/2026).

Penulis: Ach Jalaluddin Ar Rumi
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id