Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
17 Januari 2026 | 07:43 WIB
Inspirasi

Mondok Bukan Cari Jodoh, Ning Uswah: Cinta Itu Ujian Santri

IMG 20260117 WA0000
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Azhar Mojokerto, Ning Uswah Hasanah.

 

Mondok bukan tentang mencari jodoh, melainkan menuntaskan ikhtiar menimba ilmu. Bagi Ning Uswah Hasanah, cinta di pesantren adalah fitrah, namun bisa menjadi ujian jika tak disertai kontrol diri.

________________________________________

Sidoarjo (Surau.ID) – Pengasuh Pondok Pesantren Al-Azhar Mojokerto, Ning Uswah Hasanah, menegaskan bahwa tujuan utama santri belajar di pesantren adalah mencari ilmu, bukan mencari jodoh.

Penegasan tersebut ia sampaikan saat mengisi seminar bertajuk “Cinta-Circle dan Kontrol Diri” di Pondok Pesantren Manbaul Hikam (Mahika), Tanggulangin, Sidoarjo, Rabu (14/01/2026).

Dalam pemaparannya, Ning Uswah Hasanah, yang akrab disapa Ning Uswah Syauqie, menjelaskan bahwa rasa cinta merupakan fitrah manusia dan berasal dari Allah SWT. Karena itu, santri tidak dilarang memiliki perasaan cinta.

Namun, yang menjadi persoalan adalah tindak lanjut dari rasa tersebut, seperti bertemu secara khusus atau berkirim surat, yang justru dapat mengganggu tujuan utama mondok.

“Mondok itu mencari ilmu, bukan mencari jodoh. Biasanya ujian seorang santri yang menghafal Al-Qur’an adalah dicintai atau mencintai lawan jenis,” ungkapnya.

Menurut Ning Uswah, apabila ada seseorang yang datang menyatakan cinta ketika hafalan Al-Qur’an seorang santri masih berada di angka 20 juz, maka hal itu bukanlah jodoh, melainkan cobaan.

Ia menekankan bahwa prioritas santri adalah menuntaskan hafalan dan menyelesaikan pendidikan di pesantren. Soal jodoh, katanya, akan datang pada waktunya sendiri.

Selain soal relasi lawan jenis, Ning Uswah juga menyoroti budaya circle dalam pergaulan santri. Ia mengingatkan agar santri tidak membangun kelompok-kelompok eksklusif di lingkungan pesantren.

Menurutnya, fenomena circle kerap terjadi di kalangan santri putri, misalnya dengan hanya memilih berteman dengan mereka yang sering memberi makanan.

“Berpikirlah positif, teman yang jarang memberi makanan mungkin orang tuanya belum bisa membeli makanan yang lebih untuk bisa dibagikan ke teman-teman,” jelasnya.

Sementara itu, dalam pergaulan santri laki-laki, Ning Uswah menilai persoalan yang sering muncul adalah praktik perundungan.

Bentuknya beragam, mulai dari memanggil nama orang tua, menyuruh-nyuruh junior, hingga dalih senioritas.

Ia berharap budaya semacam itu tidak lagi terjadi di pesantren dan tidak dianggap sebagai hal sepele.

“Pesantren adalah tempat yang suci. Maka ketika kita melakukan kebaikan akan dilipatgandakan kebaikannya. Dan sebaliknya, bila melakukan bullying, dosanya akan berlipat ganda,” tuturnya.

Kandidat Doktor Universitas KH Abdul Chalim, Pacet, Mojokerto itu juga mendorong santri untuk berani melawan perundungan dengan cara yang tepat.

Salah satunya dengan menunjukkan gestur tidak suka ketika mengalami perlakuan tidak menyenangkan.
Ia menegaskan bahwa seluruh santri memiliki kedudukan yang sama di pesantren.

“Di pesantren semua santri sama, maka dari itu tidak ada yang boleh merasa berhak menyuruh. Tidak boleh pula menormalisasi senioritas,” pungkasnya.

Penulis: Nurkhaliq BR
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id