Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
28 April 2026 | 14:14 WIB
Pesantren

Dari Kitab Kuning ke Real Life, Ini Misi Besar Pesantren Kata KH Indi Aunullah

IMG
(Dari kiri) KH Muhammad Al-Fayyadl, KH Indi Aunullah, dan KH Sholehuddin Wahid saat menghadiri silaturrahim Majelis Sholawat Nariyah 4444X Madrasah Diniyah Nurul Jadid di Karanganyar, Paiton, Selasa (28/04/2026). (Foto: Jalaluddin/Surau.ID).

 

PROBOLINGGO Surau.ID) — Kegiatan rutin tahunan silaturrahim Majelis Sholawat Nariyah 4444X Madrasah Diniyah Nurul Jadid digelar di kediaman Ust Musthofa, Karanganyar, Paiton, Selasa (28/04/2026). Acara ini dihadiri seluruh tenaga pengajar ustadz dan ustadzah, serta sejumlah tokoh, di antaranya Kyai Muhammad Al-Fayyad, KH Indi Aunullah bin KH Fadhlurrahman Zaini, dan Gus Shalahuddin Wahid.

Kegiatan diawali dengan pembukaan dan pembacaan Sholawat Nariyah sebanyak 4444 kali. Rangkaian acara berlangsung khidmat dengan partisipasi aktif para peserta dari awal hingga akhir.

Dalam kesempatan tersebut, KH Indi Aunullah menyampaikan tausiyah mengenai fungsi utama pendidikan agama, khususnya di lingkungan pesantren. Ia menegaskan bahwa pesantren tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga memiliki peran strategis dalam membentuk peradaban umat.

Menurutnya, fungsi pertama adalah tafaqquh fiddin, yaitu pendalaman ilmu agama secara rinci dan mendalam sebagai upaya menjaga keberlanjutan kaderisasi ulama.

“Harus ada yang mendalami agama, menguasai bahasa Arab, kitab kuning, akhlak, dan fiqh. Karena yang sepuh akan digantikan oleh yang muda, maka tafaqquh fiddin harus ada dalam fungsi pengajaran pendidikan agama atau pesantren,” ungkap KH Indi Aunullah.

Tiga Fungsi Utama Pendidikan Pesantren

Selain itu, ia menjelaskan fungsi kedua, yakni menyiapkan umat yang saleh. Ia menilai tidak semua orang harus mendalami agama secara mendalam, namun wajib memahami dasar-dasar keagamaan.

Pemahaman tersebut meliputi keabsahan ibadah, kekuatan akidah, serta kemampuan membedakan antara yang benar dan yang salah dalam kehidupan sehari-hari.

“Yang kedua tidak harus mendalam, tetapi minimal paham dasar-dasar agama, seperti sahnya ibadah salat. Jika ada yang mengaku nabi, ia bisa meyakini bahwa itu bukan nabi karena nabi terakhir adalah Nabi Muhammad SAW dalam akidah, serta mengerti perbuatan baik dan buruk dalam akhlak,” paparnya.

Fungsi ketiga adalah sebagai sarana rehabilitasi bagi masyarakat yang menyimpang dari ajaran agama. Menurutnya, pesantren memiliki tanggung jawab untuk membimbing kembali umat ke jalan yang benar.

“Ulama dulu ada yang bertugas berdakwah untuk mengembalikan mereka kepada jalan yang benar, jangan dibiarkan,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan para tenaga pengajar diniyah agar mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing. Baik dalam mendalami kitab kuning, membimbing masyarakat dalam ilmu dasar keagamaan, maupun mendampingi mereka yang membutuhkan pembinaan.

Acara ditutup dengan doa bersama. Para peserta berharap keberkahan Sholawat Nariyah dapat menjadi penguat bagi para pengajar dalam melanjutkan perjuangan dakwah sebagai pewaris ajaran Nabi Muhammad SAW.

Penulis: Ach Jalaluddin Ar Rumi
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id